Rain & Ma Acoustic boy (chapter 4/end) EXO's Fanfiction Story Indonesia

Suciagustini :  Tittle: Rain & Ma Acoustic boy (chapter 4/end)
Author: Della Wu (me)
Cast: Park Chanyeol, Kim Se Myun
Genre: Sad
Length: chapter
Mianh ngepostnya lama, efek puasa jadi lola…maaf gak bisa ngetag,,, maaf maaf maaf karena mata saya yang udah 2,5 watt karena saya ngepost dipagi hari sebelum sahur jadi nih mata susah udah kiyep-kiyep..
Mohon RCL yaa jangan dikacangin mulu..Cuma like like doank,,hiks hiks
Ok deh..happy read
Link chapter 1
KUNJUNGI
link chapter 2
KUNJUNGI
Kadang waktu seolah begitu ingin bermain, entah itu sebuah permainan atau memang sebuah takdir dan kenyataan yang membuat adanya sebuah pertemuan juga perpisahan. Andai waktu bisa berputar, ah atau setidaknya ada pemberhenti waktu, mungkin se myun akan mempunyai banyak pilihan. Pilihan yang mungkin tak akan membuatnya terperosok jauh disebuah lubang yang menganga dan menguapkan kepedihan.
Se myun menangkupkan kedua tanganya didepan mulutnya yang sedari tadi tiada lelah meminta. Matanya masih juga dengan hangat mengaliri pipinya hingga basah.
“park chanyeol…”.
Hanya nama itu yang ia sebut berulang-ulang dalam doanya. Entah sebenarnya apa yang ia tangisipun ia tidak tahu. Ia ingin marah, kecewa, sedih, tapi ia juga merasa jika hak untuk rasa seperti itu bukanlah sepenuhnya miliknya. Chanyeol? Jika memang benar gadis bernama seehi yang datang itu benar-benar adalah tunangan dari chanyeolnya itu, bisa apa dia?. Ia bukanlah seorang tipe gadis yang egois dan suka memperebutkan laki-laki, ia bukanlah seorang gadis arogan dan tak tahu malu untuk mendapatkan apa yang ia mau, se myun adalah seorang gadis yang hanya bisa diam melihat semuanya. Diam dan menerima, sekalipun ia terluka se myun lebih memilih untuk sendiri menanggungnya.
Ditengah-tengah ia berdoa dan menyebut nama chanyeol disana di gereja kecil itu, sepintas bayangan kriss muncul dimatanya. Tanpa komando atau keinginanya wajah kriss menari-nari dimatanya bersamaan dengan bayangan chanyeol. Kriss, seorang pria yang dulu pernah menggenggam tanganya erat dalam sebuah tautan cincin pertunangan sebelum akhirnya ia sendiri yang meninggalkan se myun demi gadis lain, namun tak lama kemudian ia kembali memohon-mohon pada se myun untuk kembali padanya. Bayangan saat ia melihat kriss mengecup gadis lain membuatnya dadanya terasa sesak, namun sesak itu berganti bimbang mengingat hampir 2 tahun ini kriss kembali terus menemaninya, mengejarnya dan membuktikan tanda permintaan maafnya.
“Tuhan..”. desisnya yang masih terisak.
“Tuhan, jika pria itu kau takdirkan untukku maka munculkanlah dia kembali..hiks hiks. Buat dia tetap mengingatku..buat dia yang menggenggam tanganku..hiks hiks..aku mohon, aku butuh sebuhah penjelasan itu..”. pinta se myun dengan mata yang terus berurai basah.
Suara tangisanya terdengar cukup keras di gereja itu yang memang sangatlah sepi dipagi hari seperti ini. Tempatnya yang berada didekat sebuah danau kecil yang jauh dari perkotaan membuat gereja itu hanya disinggahi beberapa orang sesekali saja. Sunyinya membuat sebuah jam besar yang ada disana dentinganya terdengar keras, hingga tak lama suara dentingan itu beradu dengan sebuah suara derap sepatu. Makin lama suara ketukan langkahnya terasa makin mendekat hingga pemilik suara itu kini berdiri tepat disamping se myun. Ia juga melakukan hal yang sama dengan gadis itu, menangkupkan kedua tanganya seraya berdoa meminta kepada Tuhan. Se myun yang merasakan ada orang lain bersamanya mulai membuka mata. Pelan-pelan kepalanya ia putar untuk menengok kesebelah kanan.
DEGK!.
Seketika se myun membelalakan matanya melihat sosok yang kini tengah berdiri disampingnya. Seorang pria dengan kaos berbalut cardigan abu-abu. Wajahnya nampak begitu tenang dan damai dalam pejamnya doa.
“cha..chanyeol…”. gumam se myun.
Hatinya entah ingin meledak-ledak, air matanya kembali berjatuhan. Rasanya baru saja ia berdoa meminta kepada Tuhan agar chanyeol berada bersamanya, dan kini pria dengan senyum yang hangat itu benar-benar telah muncul. Muncul bahkan dengan senyum kecil yang melengkung dibibirnya yang tengah mengucap-ucapkan permintaan.
Se myun mengangkat pelan-pelan tanganya lalu ia dekatkan kewajah chanyeol, sedikit lagi tanganya hampir menyentuh pipi itu namun gerakanya terhenti seketika. Seketika ia mematung saat chanyeol menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang BERBEDA!. Tatapan yang seolah-olah kebingungan dengan tangan yang tepat berada didepan wajahnya.
“hey..maaf. bisakah kau menyingkirkan tanganmu”. Ucap chanyeol lembut dengan tersenyum.
“chanyeol..”. lirih se myun miris.
“kau mengenalku?”. Tanya chanyeol polos dan menunjuk wajahnya sendiri.
Se myun terdiam. Ia merasakan jika kali ini hatinya benar-benar memanas. Sungguh, ia ingin memecahkan tangisnya. Tapi apa guna? Menangispun sepertinya itu akan membuat pria yang kini ada didepanya makin bingung. Se myun mengingat sesuatu, “benturan dikepalanya sangatlah keras sehingga menyebabkan kemampuan mengingatnya akan menghilang setelah dia tersadar nanti. Sekalipun nanti dia masih mengingat tentang hal-hal dulu, itu tak akan bertahan lama”. DEGK!. Se myun terlonjak seketika saat mengingat kata-kata dokter beberapa hari yang lalu. 24 jam? 24 jam telah berlalu dan seperti apa yang dikatakan oleh dokter bernama joonmyeon itu bahwa kini chanyeol telah kehilangan ingatanya.
“oh Tuhan…”. Desis se myun dan ia menangkup mulutnya sendiri menutupi tangisnya. Ia berlari dari depan pria itu. Se myun berlari sambil menangis membuat chanyeol makin kebingungan.
“ada apa dengan gadis itu..”. tanyanya dalam hati. Chanyeol yang tersadar jika se myun telah berlalu ia segera berlari menyusulnya keluar. Hatinya dipenuhi tanda tanya besar mengapa gadis itu tahu namanya, mengapa gadis itu juga tiba-tiba menangis didepanya. Chanyeol dengan kaki panjangnya dengan mudah menyamai derap kaki se myun yang baru sampai dihalaman gereja.
BRUUGKK!. Se myun tersungkur
“aaarrgghh..”. erang se myun memegangi lututnya yang berdarah tertumbuk kerikil tajam. Ia menangis. Se myun terduduk ditanah sambil memegangi lututnya seolah-olah rasanya begitu sakit hingga membuatnya tak mampu berdiri. Bukan itu, padahal bukan itu yang membuatnya menangis, bukan itu yang membuatnya tersungkur hingga rasanya sulit untuk bangun. Tapi kenyataan jika kini chanyeol tak lagi mengingatnya, chanyeol tak lagi merasa jika ia adalah momonya.
“gwencanayo? Mari bangun nona..”. chanyeol mengulurkan tanganya, namun se myun masih diam tak berkutik dan menunduk.
“nona..”. panggil chanyeol lagi.
“gwenchana..”. tepis se myun dan mencoba bangun sendiri.
BBRUGKK!. Untuk yang kedua kalinya se myun terjatuh dan kini tepat dihadapan chanyeol. Chanyeol cukup panik dan tanpa meminta ijin ia langsung menggendong ala bridal se myun yang isaknya mulai reda.
“turunkan aku..”. pinta se myun lirih.
“baik tapi nanti nona..”. sela chanyeol. Pria itu berhasil membuat se myun membisu meski dalam hatinya ia menjerit pilu. Se myun menjatuhkan air matanya lagi.
“kenapa kau seperti ini momo..”. gumam se myun dalam hati. Chanyeol menurunkanya dan mendudukanya pada sebuah kursi taman depan gereja.
“tunggu dulu sebentar disini, aku akan mencarikanmu obat”. Ucap chanyeol seraya melangkah.
“tidak perlu..”. se myun mencegah chanyeol dengan menggenggam tanganya. Otomatis chanyeol memandangi tanganya.
“euhm..maaf”. ucap se myun seraya menarik tanganya lalu ia sembunyikan dibalik saku bajunya. Chanyeol tersenyum dan ia mengurungkan langkahnya. Ia ikut mengambil posisi dibangku taman itu.
“coba aku lihat..pasti sakit”. Kata chanyeol. Pria itu coba mengangkat kaki se myun dan ia letakan dipangkuanya. Awalnya se myun menolak namun chanyeol memaksanya.
“aku tidak punya obat, jadi setidaknya lukamu harus bersih dulu..”. lanjutnya seraya mengambil secarik sapu tangan berwarna biru muda dari saku cardiganya. Dengan berhati-hati pria bernama park chanyeol itu mengusap darah yang mengalir dilutut se myun dan sesekali meniupnya agar tak terasa perih.
“tcah,,sudah bersih”. Ucap chanyeol.
“gomawo..”. se myun menundukan kepalanya. Kini ia menghadap lurus kedepan tanpa menatap chanyeol, kakinya pun telah ia tarik keposisi semula.
“nona..kenapa kau tahu namaku?”. Tanya chanyeol. Pertanyaan itu terasa seperti air raksa yang menyiram hati se myun, terasa panas perih.
“ah iya.. dulu aku ingat kau adalah pasien tabrak lari yang kamarnya ada disebelah kamarku”. Jawab se myun setenang mungkin. Ia tidak ingin menangis lagi didepan pria yang sudah tak mengingatnya. Mendengar itu chanyeol mengerutkan keningnya.
“benarkah?”. Tanyanya seolah-olah tak percaya. Sama seperti dulu, chanyeol juga akan mengatakan itu jika se myun berbohong. Se myun mengangguk lemah. Chanyeol tampak manggut-manggut.
“begitu ya..lalu kau sakit apa nona? Ehm,,siapa namamu?”.
“hanya.. dehidrasi berat saja. Kau bisa memanggilku baby”.
“baby? Itukah namamu?”. Tanya chanyeol tak mengerti. Se myun nampak bangun dari duduknya.
“seseorang dimasa lalu biasa memanggilku seperti itu..jadi panggil saja aku begitu”. Ucap se myun lalu ia mulai berjalan meski kakinya masih terasa kaku dan perih. Ia tak menghiraukanya, yang kini ia rasakan hanyalah perih yang ada dalam hatinya.
“baby..bisakah kita bertemu lagiii…”. Teriak chanyeol pada se myun yang makin menjauh. Se myun berbalik.
“jika Tuhan mengijinkan..”. balasnya dan melanjutkan langkahnya.
Se myun memandang kosong makanan yang ada dalam pangkuanya. Ia sama sekali tak berselera sedikitpun. Sudah seharian sejak tadi pagi dari gereja itu ia tak mengisi perutnya, jika seperti itu bagaimana dia bisa meminum obat.
CEKLEK!.
Pintu kamarnya terbuka dan menampakan seseorang yang sudah tak asing lagi baginya. Seseorang yang benar-benar telah membuktikan penyesalanya pada se myun. Kriss. Pria itu menghembuskan nafasnya berat melihat keadaan se myun yang makin kurus. Lingkaran hitam mengelilingi kelopak matanya yang indah. Kriss mendudukan dirinya disisi ranjang. Ia meraih nampan makanan yang sudah bibi han pembantu se myun siapkan sedari tadi. Kriss mengambil sesendok sup kacang merah dan mencoba menyuapkanya pada gadis terkasihnya itu.
“buka mulutmu..aaaa..”. kriss membimbing se myun untuk membuka mulutnya namun se myun masih tetap saja menutup mulut. Bahkan ia memalingkan wajahnya.
“tidak mau..”. tolak se myun tanpa menatap kriss.
“sekali saja..ayo se myun”. Bujuk kriss.
“tidak!”. Bentak se myun pada kriss. Beberapa detik kemudia ia langsung memandang kriss setengah menyesal.
“maaf..”. sesal se myun yang merasa bersalah karena membentak kriss.
“tak apa..”. balas kriss dengan tersenyum.
“kau mau jalan-jalan?”. Kriss menawarkan. Se myun menoleh, ia tampak berpikir sejenak lalu akhirnya ia mengangguk pelan.
Kriss memakaikan syal merah pada se myun agar tak kedinginan. Se myun menurut saja, sehangat apapun kriss padanya se myun masih bertahan dengan sikapnya yang dingin sedingin salju diluar sana.
“sudah siap untuk bersenang-senang?”. Tanya kriss pada se myun, lagi-lagi se myun hanya mengangguk. Setelah itu kriss menuntun se myun menuju mobilnya yang terparkir manis diluar rumah se myun. Rumah yang terasa sunyi karena hanya ada se myun dan bibi han didalamnya. Orang tua se myun berada diluar negeri sejak ia masih bersekolah tingkat menengah pertama, jadi hidup mandiri itu adalah hal yang biasa bagi seorang kim se myun.
Tak butuh waktu lama untuk kriss membawa se myun kesuatu tempat. Kini mobilnya telah berhenti. Sebuah taman bermain yang nampak indah bercahaya kini ada didepan mata se myun. Perpaduan cahaya-cahaya terang berwarna-warni dengan sapuan salju membuatnya tampak begitu indah(bayangin aja suasana taman bermain dimalam hari di MV the seeya more & more). Mata se myun berbinar saat ia sudah turun dari mobil kriss, senyuman melengkung dari bibirnya. Kriss yang berdiri disampingnya ikut tersenyum. Betapa leganya ia saat bisa melihat kembali senyum merekah se myun.
“kriss ayoooo…”. Pekik se myun seperti anak kecil dan secara tak sadar ia manarik pergelangan tangan kriss. Spontan kriss terlonjak dan memandangi tanganya lalu ia tersenyum senang. Mereka tampak seperti sepasang kekasih dan terlihat begitu serasi. Kecantikan alami se myun bersanding dengan wajah kriss yang Tuhan cetak dengan sempurna membuat beberapa pasang mata menatap mereka iri. Kriss mengikuti kemanapun se myun berlari. Kesebuah penjual aksesoris, kepenjual balon, dan tak lupa satu hal yang paling se myun suka, kembang gula. Se myun meminta 2 kembang gula berwarna pink sekaligus, baiklah itu bukan hal yang sulit bagi seorang kriss.
“gomawo..”. ucap se myun dengan manisnya. Sikapnya malam ini begitu manis. Entah, mungkin kepenatan hatinya sudah mencapai puncak hingga ia ingin tersenyum lepas lewat malam ini bersama kriss dan sejenak menghapus bayang seorang momo yang menyesakkan dadanya.
“kriss aku mau itu..”. rengek se myun childis yang menunjuk sebuah stand permainan memanah dengan hadiah boneka teddy bear besar. Kriss terkekeh.
“aku bisa membelikanmu boneka itu sebanyak yang kau mau se myun..”.
“aku mau yang disana, aku mau kau yang memanahnya..”. jelas se myun dengan bersungut, membuatnya tampak manis dimata kriss.
“hhmm..baiklah nona”. Ucap kriss dengan melakukan gerakan hormat yang membuat se myun terbahak.
Kriss dan se myun mendekati stand tersebut. Setelah menyodorkan beberapa lembar uang akhirnya kriss mendapatkan 3 buah anak panah yang nantinya akan ia gunakan untuk bermain. Kriss memposisikan dirinya didepan pembatas, matanya mulai memicing bidikanya saat anak panah sudah berada ditanganya. Pelan-pelan kriss menarik anak panah pertama.
ZZTTTTT..panahan pertama dan ternyata melenceng. Se myun yang sedari tadi menyemangatinya langsung berubah masam. Kriss mencoba untuk yang kedua kalinya.
ZZZZTTT.. dan yang kedua itu, gagal lagi. Melihat itu se myun makin lemas. Ia sudah seperti putus harapan.
“dasar payah..”. ejek se myun pada kriss. Kriss yang melihat se myun seperti itu kini berusaha lebih keras lagi.
“semoga ini berhasil”. Gumam kriss yang mulai mengambil panah terakhirnya.
ZZTTTT!. Tepat sasaran.
“yeeeaahhh…!”. Ucap kriss dengan mengepalkan tanganya.
“yaaakkkkkk..kriss kau berhasil kau berhasil..”. pekik se myun. Tanpa sadar ia memeluk kriss kegirangan, membuat kriss merasakan jantungnya hampir meloncat senang. Kriss balik memeluk se myun dan mereka menjadi pusat perhatian disana.
“kau membuatku jatuh cinta padamu lagi se myun”. Kriss menggumam.
“eh..”. se myun yang tersadar langsung melepas pelukanya. Pipinya yang pucat merona merah.
“ini hadiahnya tuan…”. Sipemilik stand menyodorkan hadiah memanah itu pada kriss. Setelah menerimanya kriss membungkukan badan dan mengucapkan terimakasih. Teddy bear berwarna coklat itu kriss berikan pada se myun yang masih tampak kikuk.
“ini..”. kriss memberikanya pada semyun.
“terimakasih tuan wu..hehe”. ledek se myun dengan memanggilnya tuan wu.
Setelah cukup lama bermain-main akhirnya se myun meminta untuk pulang. Kriss menurutinya dan mereka kembali menuju mobil. Sesekali kriss membenahi syal yang melingkar dileher se myun membuat mereka tampak seperti sepasang kekasih yang harmonis. Kriss membukakan pintu mobil untuk se myun dan se myun masuk kedalamnya disusul kriss disebelah kiri. Kriss mulai menjalankan mobilnya meninggalkan taman bermain. Pria itu tersenyum-senyum sendiri jika mengingat apa yang baru saja ia lewati bersama se myun. Tersenyum, tertawa bermain bersama membuatnya seperti kembali ke waktu dimana dulu se myun masih menggelayut padanya, saat cincin indah itu masih melingkar diantara jari mereka.
“hey kau kenapa…”. Tanya se myun yang merasa aneh melihat kriss tersenyum-senyum sendiri.
“what? Ah nothing..”. jawab kriss sekenanya. Setelah itu mereka terdiam cukup lama, hanya deruan mobil lain yang terdengar.
“kriss.. bolehkah aku bertanya sesuatu?”. Se myun membuka pertanyaan.
“bertanyalah se myun”.
“tentang itu..tentang gadis bernama seehi itu bagaimana kau tahu jika dia tunanganya. Lalu bagaimana kalian,,bisa tahu keberadaan kami dimana”. Tanya se myun ragu.
CCIITTTTTTT!. Kriss menginjak rem mendadak dan langsung menepi, membuat jantung gadis yang duduk disampingnya hampir terlempar. Se myun yang terkejut hanya diam, ia sama sekali tak memandang kriss dan hanya menanti jawaban darinya.
“hhhhhhhhhhh….”. terdengar kriss bernafas gusar. Pria itu tampak mulai mengambil nafas untuk bicara. “dia,,,dia adalah sepupuku di Cina se myun, aku tak tahu jika laki-laki yang ia cari adalah orang yang tengah bersamamu”.
“apa?”. Se myun terkejut. “jadi benar chanyeol mempunyai hubungan denganya”. Batin se myun. Se myun mulai kalut, apalagi mengingat pertemuanya dengan chanyeol pagi tadi dalam keadaan dia yang telah melupakanya. Matanya mulai berkaca-kaca dan mengembun. Perlahan embun hangat itu meleleh mengaliri pipinya yang bersih.
“maaf.. aku, merusak kebahagiaanmu”. Lirih kriss menunduk.
“tidak.. bukan kau yang salah kriss. Tapi aku”. Balas se myun. Kriss mengangkat kepalanya dan menatap se myun sendu.
“mungkin kau benar..aku harus mulai melepaskan sesuatu yang tidak nyata. Berhenti menunggu sesuatu yang belum pasti kedatanganya. Tidak nyata, aku sadar. Sesuatu yang tidak nyata tidak selalu sesuatu hal tidak nampak. Sekalipun hal itu ada didepan mata, tapi apa artinya jika tangan tidak bisa meraihnya. Itu semu bukan? Samar..”. tutur se myun.
“terlebih.. ada orang lain yang lebih berhak untuknya..”. lanjut se myun dengan nada yang mulai terputus-putus. Ia terisak. Melihat itu kriss hendak meraih kepala se myun namun dengan cepat se myun menolak. Tiba-tiba ia berlari keluar dari mobil meninggalkan kriss.
“se myun..kim se myuuuun”. Teriak kriss frustasi.
Se myun mengusap pipinya yang basah. Sudah cukup jauh ia berlari dan kini ia merasakan lelah. Terlebih lagi jantungnya ia rasakan kini melemah kembali. Se myun duduk disebuah halte yang cukup sepi. Malam menunjuk jarum jam diangka 11. Salju sudah tak berjatuhan, namun entah mengapa suasana berubah menjadi hangat. Se myun menatap sepasang kekasih yang melintas didepanya dengan bergandengan, tampak begitu hangat.
“mungkin akan turun hujan jadi suasana cukup hangat”. Ucap sang pria yang dibalas anggukan oleh gadisnya.
Se myun terdiam saat 2 orang itu berlalu. Kepalanya mendongak menatap langit.
“gelap..”. gumamnya.
“dimalam hari langit memang selalu gelap bukan”. Celetuk seseorang yang mengejutkan se myun. Mata se myun membelalak saat mendapati chanyeol telah duduk disampingnya.
“hay baby..”. sapa chanyeol dengan tersenyum lebar menampakan deretan giginya.
“euh,,hai..”. balas se myun singkat karena masih terkejut.
“sedang apa kau disini?”. Tanya chanyeol.
“aku..ehm menunggu seseorang”.
“kekasihmu?”. Tanya chanyeol lagi.
“………….”. se myun membisu. Ia menunduk. Sungguh, rasanya ia ingin menjerit dan menangis dalam pelukan chanyeol. Ia kekasihnya, bagaimana bisa ia mengatakan jika se myun menunggu orang lain. Bisa saja, karena bagi chanyeol se myun adalah orang lain diingatanya. Ia ingin menangis, benar-benar ingin menangis.
“kekasihku ada disini,,tapi dia..tidak mengingatku”. Ucap se myun yang membuat chanyeol heran.
“bagaimana bisa?”.
“entahlah..mungkin, takdir menggariskan seperti itu”. Jelas se myun yang ditanggapi anggukan dari chanyeol. Se myun melirik benda yang chanyeol bawa. Sebuah gitar. Se myun terus memandanginya hingga chanyeol tersadar jika gadis itu tengah memperhatikan gitar miliknya.
“park chanyeol..maukah kau memainkan itu untukku?”. Pinta se myun dengan tersenyum kecil. Chanyeol menunjuk gitarnya sendiri.
“ini? Baiklah..tapi aku tidak pandai bernyanyi. Bagaiman jika kau yang menyanyi aku yang memainkan gitarnya.eottae?”. chanyeol menawarkan. Se myun pun mengangguk.
“lagu apa?” tanya chanyeol pada se myun. Se myun tampak berpikir, hingga matanya berbinar dan ia tersenyum masam.
“seeya..more and more”. Ucap se myun.
“baiklah..”. chanyeol menyanggupi. Chanyeol mulai menjetik-jetikan jarinya sesaat lalu menyentuh senar gitarnya. Petikan-petikan khasnya mulai terdengar. Saat itu pula se myun mulai bernyanyi…
“sarangi dog haesseot nabwa
kkaeji motal ibyeore chwi haesseo
ijeuryeo halsurog nae
on momi deo apeun geol
neol miwo hamyeon halsurog
joheun mameuro bonaeryeo halsurog
mworhae dohamyeon halsurog
jakku nunmurina
myeot shigan jam mot
jago jib bakkeuro
dashi ilsang sogeuro
neowa hamkke geonildeon
geu geori sogeuro”
sebelum memasuki bagian reff se myun berhenti sejenak, ia meraskan air matanya hampir tumpah mengingat jika sebelumnya mereka berdua pernah melakukan hal ini. Chanyeol terdiam menunggun se myun kembali bernyanyi. Betapa sesaknya hati se myun saat menatap wajah chanyeol yang datar seperti saat ini padanya. Tak ada tatapan penuh cinta seperti sebelumnya atau pelukan hangatnya. Se myun mengatur nafasnya dan melanjutkan lagu itu.
geunal bam jakku
meoreojineun neoreul jabgo
tto jabeuryeo hamyeon halsurog
deo meoreo jideon neoui geu dwit moseub
wae ireohge naege seulpeun
sarang gareuchyeo jungeoya
bogo shipeo neoreul
jiuryeogo hamyeon halsurog
bogo shipeo neoreul
jiuryeogo hamyeon halsurog
Lagu itu berkahir bersamaan dengan petikan terakhir chanyeol. Pipi se myun telah basah dan ia usap dengan cepat. Chanyeol tersenyum kearahnya. Membuat perasaan se myun makin tak karuan. “tak tahukah senyumu membuatku hatiku makin pedih chanyeol”. Batin se myun menjerit.
“baby.. maukah kau mengingatku? Meski seperti yang kau katakan jika kau mengenalku karena kita sama-sama dirawat dirumah sakit yang sama apa kau akan melupakanku?”.
“kenapa kau berkata begitu chanyeol? Tentu aku akan mengingatmu”. Balas se myun. “dan selalu mengingatmu”. Lanjutnya dalam hati.
“aku akan kembali ke Cina bersama keluargaku. Aku sadar jika aku masih mempunyai banyak tanggungan yang harus aku selesaikan. Sebagai lelaki dewasa bukankah aku harus bertanggung jawab? Hehe.. jadi maukah kau tetap mengenang pertemuan kita?”. Lanjut chanyeol dan kali ini ia mengacungkan kelingkingnya pada se myun. Se myun tersenyum kecut dan membalas tautan jari pria itu. Mereka seolah-olah tengah berjanji kelinging seperti anak kecil yang telah berteman lama lalu akan saling berpisah. Se myun merogoh saku mantelnya yang tebal. Benda lembut berwarna biru muda ia ambil dari sana. Sebuah sapu tangan yang dulu chanyeol gunakan untuk menyeka lukanya.
“ini.sapu tanganmu waktu itu. Aku telah mencucinya..chanyeol, terimakasih”. Ucap se myun dan ia bangkit.
“ambilah baby..kenapa kau kembalikan padaku?”. Chanyeol mencegah se myun yang hampir pergi. Se myun berbalik.
“itu bukan hak ku chanyeol. Terimakasih kau sudah menyeka lukaku. Sapu tangan, pertemuan sapu tangan akan manis diawal namun akan berakhir dengan menyedihkan, itu menurut buku yang aku baca. Semoga kita tidak seperti itu..simpanlah milikmu itu”. Tutur se myun.
“baiklah..”. chanyeol mengalah dan meraih sapu tangan miliknya.
“kapan kau kembali ke Cina?”. Tanya gadis itu.
“lusa.. dan aku akan memulai hidup yang baru”. Jawab pria manis itu dengan mata yang berbinar. “memulai hidup yang baru? Tanpa aku?”. Tanya se myun dalam hatinya yang miris. Matanya hampir menumpahkan genanganya lagi namun sebisa mungkin ia tahan. Ia memaksakan bibirnya agar tersenyum.
“berhati-hatilah.. hiduplah dengan baik..dan, jangan pernah lupakan orang-orang yang mencintaimu”. Pesan se myun.
“tentu.. tapi, baby bisakah besok pagi kau datang ke gereja itu?”.
“kenapa? Apa kau ingin bersembahyang bersamaku sebelum kau pergi?”. Tanya se myun penasaran. Jujur, ia masih sangat berharap jika chanyeol akan kembali membawanya pada hari-hari yang manis dan romantis seperti sebelumnya.
“ah..lebih dari itu. Akan ada hal besar besok. Jadi, datanglah baby”. Kata chanyeol lalu pria itu juga nampak bersiap untuk pergi.
“sampai jumpa besok baby..bye”. chanyeol melambaikan tanganya pada se myun seraya tersenyum hangat. Se myun memandangi punggung chanyeol yang mulai jauh meninggalkanya di halte itu. Ia sama sekali tak menoleh kebelakang memandang se myun.
“padahal baru saja aku yang lebih dulu berbalik dan akan melangkah pergi, tapi kini malah kau yang berbalik dan lebih dulu melangkah pergi meninggalkanku chanyeol”. Gumam se myun perih. Ia masih mematung disana meski chanyeol telah menghilang dari pandanganya. Malam yang makin sunyi dan menusuk tak membuatnya merasa lelah berdiri. Hingga air yang sedari mungkin telah tebal menggantung mulai berjatuhan membasahinya. Hujan.
Kriss tampak begitu panik saat menyentuh kening se myun yang sangat panas dan keningnya teraliri keringat dingin. Bibi han mengatakan jika se myun pulang larut malam dalam keadaan menangis dan badan yang basah kuyup.
“apa lagi yang membuatmu berdiri lagi ditengah hujan se myun”. Batin kriss sedih. Ia dengan telaten mengompres kening se myun agar membantu demamnya turun sambil menunggu dokter datang. Rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang paling ia cintai itu tergolek lemah seperti tanpa nyawa, nafasnya juga terdengar begitu pelan dan tersendat-sendat seperti sedang sekarat.
“apa semalam dia sempat makan dulu bibi?”. Tanya kriss pada bibi han yang mengemasi baju basah yang se myun kenakan semalam. Bibi han tampak berpikir sejenak.
“sejak kemarin pagi, sepertinya setiap makanan yang bibi buatkan untuknya tak tersentuh sedikitpun tuan”. Jawab bibi han dengan sedih. Kriss menggelengkan kepalanya. Ia mengelus pipi se myun yang menirus pelan.
“kau memang sangat keras kepala se myun..”. batin kriss berbicara. Ia bangkit dan menuju dapur berniat untuk membuatkan makanan untuk se myun.
“aku akan membuatkan sup kesukaan se myun..tolong bibi jaga se myun”. Pinta kriss dengan tersenyum ramah yang dibalas dengan senyum oleh bibi han. Wanita paruh baya yang telah lama hidup bersama se myun itu telah mengerti siapa dan bagaimana kriss yang sangat mencintai nona mudanya. Bibi han membenahi selimut se myun. Beberapa detik kemudian se myun menggeliat lemah dan mengerjap-erjapkan matanya. Matanya yang sayu mulai terbuka dan memperlihatkan bekas menangisnya semalam.
“nona sudah bangun?”. Bibi han mengelus puncak kepala se myun seperti putrinya sendiri.
“ini..jam berapa bi..”. ucap se myun dengan parau. Ia mencoba duduk dengan tubuhnya yang lemas.
“hampir jam 9 pagi.. ada apa nona?”.
“apa? Jam 9”. Pekik se myun terkejut. Ia langsung melompat dari ranjangnya dan menyambar sweater putihnya. Ia mencoba menyingkirkan bayangan matanya yang tampak berputar-putar pening. Se myun ingat jika semalam chanyeol mengatakan jika akan ada suatu hal yang besar pagi ini bersamanya. Hal itu membuatnya melupakan jika kondisi tubuhnya sangatlah lemah. Semuanya akan ia lewati asal ia bisa bersama chanyeol, momonya.
“nona anda mau kemanaaa…”. Teriak bibi han cemas yang tak bisa mencegah kepergian se myun. Se myun berlari dengan cepat menuruni anak tangga dan keluar dari rumah dengan masih menggunakan dress tidurnya yang putih senada dengan sweaternya. Kriss yang mendengar teriakan bibi han sontak berlari menuju kamar se myun.
“ada apa? Mana se myun”. Tanya kriss cemas.
“nona berlari keluar tuan.. hiks hiks”. Tangis bibi han tak terbendung lagi melihat keadaan se myun yang menyedihkan. Kriss membulatkan matanya terkejut. Tanpa pikir panjang ia berlari keluar untuk mencari se myun dengan mobilnya.
Se myun dengan tergopoh-gopoh menuju gereja tempat ia bertemu chanyeol. Gereja yang sebenarnya selalu ia datangi untuk menangkan diri jauh sebelum ia mengenal chanyeol. Jantungnya berdebar entah bagaimana, ia takut jika chanyeol telah menunggunya lama atau bahkan telah pergi lebih dajulu. Langkahnya yang semula begitu cepat tiba-tiba memelan saat ia mulai mendekati gereja. Suasana yang janggal terdapat disana. Se myun merasakan jantungnya berdebar diatas normal saat menangkap hawa-hawa yang memanaskan matanya. Nuansa putih, bunga-bunga berhias indah dan beberapa orang yang tampak mengenakan gaun formal bernuansa sama ada digereja itu.
“kenapa tempat ini begitu ramai?”. Se myun bertanya-tanya. Ia mengedarkan pandanganya kesemua arah untuk mencari sosok chanyeol. Dengan ragu ia memasuki gereja yang ternyata disana tengah berlangsung sebuah acara sakral. Terdapat sebuah altar dengan taburan banyak bunga dan diujung depanya sudah berdiri sepasang insan. Seorang gadis yang sudah ia temui sebelumnya tengah berucap janji dengan pria yang mengenakan setelan jas putih. Jas yang sangat ia kenal. Jas rancanganya! Yang ia buatkan untuk chanyeol. Seketika matanya memanas saat mendapati sosok yang mengenakan setelan itu. CHANYEOL!. Pria itu baru saja selesai bersumpah didepan Tuhan dengan gadis yang ia ketahui bernama seehi itu dan kini ia hendak menciumnya.
DEGK!. Se myun merasakan jantungnya berhenti seketika melihat itu. Bulir-bulir hangat meluncur bebas dipipinya yang pucat pasi. “chanyeol,.tidaakk!”. jerit se myun namun dalam hati. Ia seperti orang bodoh yang berdiri didepan pintu gereja seorang diri menyaksikan laki-laki yang ia cintai menikah dengan gadis lain. Hatinya hancur. Dunianya seakan kiamat tiba-tiba. Langit telah runtuh baginya. Kepedihanya ditambah saat chanyeol kini menatapnya dengan tersenyum.
“se myun..”. gumam chanyeol dengan tersenyum. Ia berjalan keluar dengan menggandeng seehi yang kini telah sah menjadi istrinya. Ia merasa jika sahabatnya telah datang untuk menghadiri pernikahanya. Perlahan-lahan chanyeol dan seehi kini telah berhadapan dengan se myun.
“terimakasih telang datang..aku senang kau ada disini se myun”. Ucap chanyeol. Ia benar-benar tak merasa jika se myun hampir mati karenanya.
“jadi..jadi ini yang kau katakan sebagai sesuatu yang besar?” tanya se myun dengan terbata-bata. Chanyeol mengangguk.
“yah.. karena inilah awal hidupku dan seperti yang kau katakan jika kau harus hidup dengan baik, maka seperti inilah. Aku akan meneruskan bisnis keluargaku bersama gadis ini.. tenang aku akan selalu mengingatmu se myun”. Tutur chanyeol. Seehi yang berada disampingnya hanya diam menunduk. Ia tak berani menatap se myun karena pasti rasa bersalah akan muncul dihatinya. Ia juga seorang wanita, yang pastinya bisa merasakan sakit yang se myun rasakan.
“terimakasih se myun.. kau telah menjadi temanku. Kau juga harus hidup dengan baik. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali. Keberangkatanku ke Cina dimajukan, jadi setelah ini aku akan langsung terbang kesana. Sampai jumpa se myun”. Ucap chanyeol yang membuat se myun ternganga. Chanyeol melewati se myun yang masih terdiam kaku. Ia menuju mobilnya yang telah terhias dengan bunga-bunga dengan tetap menggamit tangan seehi.
“park chanyeoooll!!!!”. Teriak se myun memanggil chanyeol yang telah berada dalam mobil. Ia berniat untuk menarik pria itu padanya namun terlambat. Mobil itu telah melaju meninggalkan gereja, meninggalkan se myun.
“park chanyeeooll..momooo..jangan tinggalkan aku,,huhuhuh,,chanyeol,,kembali,,”. Se myun memekik dengan sangat menyedihkan. Ia berlari menyusuri jalan yang disampingnya terdapat danau tempatnya biasa merenung. Ia mengejar mobil yang membawa chanyeol semampunya dengan berurai air mata. Ia tak peduli dengan nafasnya yang hampir habis dan tenaganya. Yang ia harapkan adalah sebuah keajaiban agar chanyeol kembali.
BBRUUGGKKK!. Se myun tersungkur begitu saja. Tubuhnya terseok ditanah yang berlapis aspal tajam.
“chanyeeeolll”. Pekiknya untuk kesekian kalinya. Mobil itu telah jauh menghilang dari pandanganya. Ia masih menangis histeris dengan keadaan menelungkup dijalan. Langitnya yang telah runtuh kini benar-benar berubah menjadi gelap. Seketika suara guntur menggema seolah ikut berteriak pada dunia.
Hujan. Langit telah menumpahkan isinya dan mengguyur tubuh lemah se myun yang begitu meyedihkan dipandang mata. Gadis itu bersikukuh bertahan disana. Air matanya telah bercampur bersama hujan. Sakit. Perih. Dingin. Semua itu bercampur jadi satu memenuhi dadanya hingga membuatnya begitu sesak bernafas. Dulu disaat ia berdiri dibawah hujan, maka chanyeol datang dan mengatakan padanya bahwa ia takkan membiarkanya menunggu lagi dibawah hujan, dulu saat ia hendak melangkah pergi chanyeol selalu mengatakan jangan pernah tinggalkan aku. Namun semuanya kini telah berbalik, seolah semua perkataan itu adalah sesuatu yang semu, sesuatu yang samar. Sekalipun ia menunggu dibawah hujan seribu tahunpun chanyeol tak akan datang lagi. Kali ini Tuhan telah menggariskan takdirnya. Takdir yang memaksa se myun untuk tak lagi mengharapkan seseorang yang bahkan tak mengingatnya.
“park..chanyeol..”. suara se myun makin melemah dibawah hujan. Dengan sisa tenaganya ia bangkit. Ia berdiri dan dengan susah payah berjalan pelan menuju sebuah tempat yang sedari tadi sudah matanya lihat. Hatinya yang gelap seketika membuatnya melangkah dengan pasti.
“sudah tidak ada yang aku tunggu lagi..tidak bisa berdiripun tak apa. Biar aku menyimpanmu bersama hujan ini chanyeol..”. isak se myun yang kini telah berdiri ditepi danau. Air danau yang terlihat pekat tersiram air hujan sama sekali tak membuatnya takut, malah seolah-olah ia melihat bayangan chanyeol disana. Ditengah deru air hujan, se myun bersenandung lirih. Melantunkan sebuah lagu yang menyiratkan sakit dihatinya.
“Sarangeun ireohke
Cinta seperti ini
Sarangeun ireohke
Cinta seperti ini
Eoneunarui neoreul nae ane chaeweogago
Suatu hari kau akan mengisi kekosonganku
Sirin nae gaseume
Bahkan jika sakit dalam hatiku
Nunmureul namgyeodo
Bahkan jika penuh dengan airmata
Neol ango saragaltheni
Aku akan hidup dengan memelukmu
Sarangeun nunmureul jiunda
Cinta menghapus airmata “
Bait terakhir terdengar makin menyesakan dengan tangisnya.
“my acoustic boy..momo..hiks hiks..saranghae”. bisiknya pada air danau.
BBYURRRRRR!!!. Se myun menjatuhkan tubuhnya yang telah lelah pada air danau disaat huja itu.
“kim se myuuuuuunnnnnnnnn!!!!”. Teriak seseorang.
Sepahit apapun jalan kehidupan, didalamnya Tuhan sangatlah adil dan selalu menyiapkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak selalu datang sesuai rencana dan apa yang kita inginkan. Bukankah sudah jelas semua yang ada didunia ini selalu berdampingan? Setelah datangnya badai hujan maka akan datang pelangi, setelah air mata bercucuran maka akan menyusul sebuah senyuman, setelah berakhirnya sebuah kisah lama maka akan terbuka kisah yang baru pula.
Tahun-tahun telah berlalu, 6 tahun itu sudah cukup membuat seorang wanita yang tengah berkutat dengan pensil-pensil lukisnya itu bisa hidup dengan normal layakanya wanita lainya. Kembali bernafas, kembali tersenyum. Kembali hidup dengan baik, memiliki banyak hal indah, memiliki pendamping bahkan malaikat pelengkap yang lucu meski sesekali membuatnya tersulut emosi. Wanita itu sesekali membenarkan letak kacamata yang bertengger dihidungnya. Ia masih fokus menatap sketsa yang ia bentuk memenuhi pesanan client juga deadline untuk perusahaanya sendiri. Hingga saat…….SSRREETTT. Desainya tercoret sangat jelas.
“oh God.. claraaaaaaaaa!!!!”. Wanita itu memekik histeris saat desainnya rusak karena ulah putrinya yang memang suka bertingkah usil. Clara, itu nama putrinya yang memiliki perpaduan paras sempurna darinya dan suaminnya yang berdarah Cina Kanada. Namun janganlah tertipu dengan parasnya karena ia memiliki sifat yang sangat mirip dengan masya (ituloh tokoh cartun masya & the bear) yang amat sangat menjengkelkan. Clara hanya nyegir kuda melihat ibunya menjerit-jerit.
“mommy, I want ..”.
“stoopp!” teriak wanita dengan nama yang berganti menjadi wu se myun itu pada clara. Ia tak ingin mendengar rengekan-rengekan putri semata wayangnya yang sudah pasti akan sangat memberatkan. Bayangkan saja, untuk anak seusia clara ia sudah terbiasa untuk merengek meminta barang-barang seperti orang dewasa. Seleranya sama seperti pamanya huang zitao yang hanya mau dengan barang-barang bermerk gucci, dandananya sama seperti luhan yang selalu perfect. Beruntung se myun mempunyai seorang suami aktor terkenal hingga ia tak harus merasa tercekik dengan kehidupan hedonis putrinya.
“hey hey.. ada apa kalian berteriak-teriak”. Ucap seorang pria yang datang sambil melepas dasinya. Namun tanpa se myun menjawab pun pria yang berstatus suaminya itu sudah tahu jawabanya saat melirik kertas yang se myun genggam penuh dengan coretan.
“o’oow…clara kau membuat masalah lagi”. Gumamnya dan geleng-geleng kepala.
“tidak daddy.. clara hanya ingin belajar melukis seperti mommy”. Clara membela dirinya
“lihat tingkah anakmu kriss! Dia merusak desain ku..”. ucap se myun histeris. Kriss mengangkat sebelah alisnya.
“hey dia juga anakmu..”.
“kau yang membuatnya bodoh”.
“kita bekerjasama sayang”. Ledek kriss yang malah membuat se myun makin geram.
“aarrgghhh krissssssss cepat enyah dari hadapanku atau kau akan aku tusuk dengan pensil lukisku!”. Se myun mengerang frustasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Wanita itu menangis saking kesalnya pada suami dan anaknya yang begitu suka membuatnya frustasi. Kriss yang menyadari akan adanya bom sekelas hiroshima itu segera meraih clara dalam gendonganya dan berlari keluar meniggalkan se myun yang mengamuk diruang kerja.
Kriss yang baru saja menengok clara sebelum tidur kini telah kembali kekamarnya. Pelan-pelan ia merebahkan tubuhnya disamping kanan se myun yang sudah terpejam sejak tadi. Kriss tersenyum. Melihat pemandangan wajah istrinya yang damai tertidur adalah obat penawar dosis tinggi yang membuatnya melupakan semua kepenantan hidupnya. Hidung tipisnya, lengkukan indah alisnya, bibirnya yang ranum, serta titik kecil dibawah mata kanan se myun merupakan lukisan indah yang begitu sulit ia dapatkan sebelumnya.
“ya ya..jangan terus memandangi kecantikanku..”. celetuk se myun tiba-tiba yang membuat kriss terkejut. Kriss tertawa dan langsung memeluk tubuh se myun. Merasakan hangatnya yang sudah seperti candu baginya.
“kau tak tidur?”. Tanya kriss yang menumpukan dagu lancipnya dikepala se myun.
“bagaimana aku tidur jika aku terus diawasi, memangnya aku pencuri”. Sungut se myun. Kriss terbahak kecil dan ia mempererat rengkuhan tanganya yang melingkari pinggang se myun. Ia masih bagai bermimpi jika kini se myun benar-benar berada dalam pelukanya sebagai miliknya kembali, dan hanya miliknya. Ia mengingat betapa dulu ia hampir mati saat melihat se myun sekarat setelah menceburkan dirinya ke danau, ia mengingat betapa sulitnya dulu untuk memiliki se myun mengingat kemungkinan hidup se myun kecil. Namun semua itu terbayar saat se myun membuka mata dengar berbinar dan tersenyum kearahnya, saat se myun dengan tulus membuka juga hatinya dan bersedia menerimanya kembali bukan hanya sebagai kekasihnya tapi juga pendamping hidupnya.
“hey kau terlalu erat memelukku kriss..”. protes se myun.
“aku mencintaimu..”. kata kriss.
“aku juga”. Balas se myun tersenyum.
“sangat mencintaimu..”. ucap kriss lagi.
“aku tahu tuan wu”.
“jangan tinggalkan aku..”. kriss masih meracau.
“tidak akan..”. jawab se myun yang menenangkan hati kriss. Pria itu tersenyum dan mengecup kening se myun.
“kau jangan terlalu keras pada clara..”. kriss menasihati se myun yang masih terdiam dalam pelukanya.
“itu karena dia terlalu nakal dan keterlaluan menggangguku kriss..”.
“kau harus sabar”.
“aku selalu mencobanya sayang tapi tetap saja dia berkelakuan devil..hhh”. eluh se myun. Kriss melepas pelukanya dan memandang lekat se myun. Ia mengangkat dagu istrinya itu yang tajamnya hampir sama denganya. Se myun merasakan aura-aura aneh lewat smirk khas suaminya.
“mungkin dia butuh teman beramain sayang..”. ucap kriss yang tersenyum nakal.
“JANGAN MACAM-MACAM KRISS!”. Pekik se myun dengan ekstra cubitan diperut kriss yang membuat kamar itu dipenuhi teriakan.
END
Hhuuuftttt..akhirnya selesai men. Meski dengan ending yang aneh setidaknya saya sudah lepas dari tanggungan ff ini. Maaf jika sangat buruk maklumlah author gadungan yah gini deh. Tapi tetep donk..mohon RCL yang membangun demi kelangsungan hidup saya…‪#‎plaaaakkkkk‬
Sampai jumpa di ff della wu selanjutnya the next ff AYANA.hehe
Selamat berpuasaaa
 — 
Tittle: Rain & Ma Acoustic boy (chapter 4/end)
Author: Della Wu (me)
Cast: Park Chanyeol, Kim Se Myun
Genre: Sad
Length: chapter

Mianh ngepostnya lama, efek puasa jadi lola…maaf gak bisa ngetag,,, maaf maaf maaf karena mata saya yang udah 2,5 watt karena saya ngepost dipagi hari sebelum sahur jadi nih mata susah udah kiyep-kiyep..
Mohon RCL  yaa  jangan dikacangin mulu..Cuma like like doank,,hiks hiks
Ok deh..happy read

Link chapter 1
https://www.facebook.com/groups/446969515398567/630561130372737/?ref=notif&notif_t=like
link chapter 2
https://www.facebook.com/groups/135535949987367/255435234664104/?ref=notif&notif_t=group_comment

Kadang waktu seolah begitu ingin bermain, entah itu sebuah permainan atau memang sebuah takdir dan kenyataan yang membuat adanya sebuah pertemuan juga perpisahan. Andai waktu bisa berputar, ah atau setidaknya ada pemberhenti waktu,  mungkin se myun akan mempunyai banyak pilihan. Pilihan yang mungkin tak akan membuatnya terperosok jauh disebuah lubang yang menganga dan menguapkan kepedihan. 
Se myun menangkupkan kedua tanganya didepan mulutnya yang sedari tadi tiada lelah meminta. Matanya masih juga dengan hangat mengaliri pipinya hingga basah.
“park chanyeol…”. 
Hanya nama itu yang ia sebut berulang-ulang dalam doanya. Entah sebenarnya apa yang ia tangisipun ia tidak tahu. Ia ingin marah, kecewa, sedih, tapi ia juga merasa jika hak untuk rasa seperti itu bukanlah sepenuhnya miliknya. Chanyeol? Jika memang benar gadis bernama seehi yang datang itu benar-benar adalah tunangan dari chanyeolnya itu, bisa apa dia?. Ia bukanlah seorang tipe gadis yang egois dan suka memperebutkan laki-laki, ia bukanlah seorang gadis arogan dan tak tahu malu untuk mendapatkan apa yang ia mau, se myun adalah seorang gadis yang hanya bisa diam melihat semuanya. Diam dan menerima, sekalipun ia terluka se myun lebih memilih untuk sendiri menanggungnya. 
Ditengah-tengah ia berdoa dan menyebut nama chanyeol disana di gereja kecil itu, sepintas bayangan kriss muncul dimatanya. Tanpa komando atau keinginanya wajah kriss menari-nari dimatanya bersamaan dengan bayangan chanyeol. Kriss, seorang pria yang dulu pernah menggenggam tanganya erat dalam sebuah tautan cincin pertunangan sebelum akhirnya ia sendiri yang meninggalkan se myun demi gadis lain, namun tak lama kemudian ia kembali memohon-mohon pada se myun untuk kembali padanya. Bayangan saat ia melihat kriss mengecup gadis lain membuatnya dadanya terasa sesak, namun sesak itu berganti bimbang mengingat hampir 2 tahun ini kriss kembali terus menemaninya, mengejarnya dan membuktikan tanda permintaan maafnya. 

“Tuhan..”. desisnya yang masih terisak.

“Tuhan, jika pria itu kau takdirkan untukku maka munculkanlah dia kembali..hiks hiks. Buat dia tetap mengingatku..buat dia yang menggenggam tanganku..hiks hiks..aku mohon, aku butuh sebuhah penjelasan itu..”. pinta se myun dengan mata yang terus berurai basah.

 Suara tangisanya terdengar cukup keras di gereja itu yang memang sangatlah sepi dipagi hari seperti ini. Tempatnya yang berada didekat sebuah danau kecil yang jauh dari perkotaan membuat gereja itu hanya disinggahi beberapa orang sesekali saja. Sunyinya membuat sebuah jam besar yang ada disana dentinganya terdengar keras, hingga tak lama suara dentingan itu beradu dengan sebuah suara derap sepatu. Makin lama suara ketukan langkahnya terasa makin mendekat hingga pemilik suara itu kini berdiri tepat disamping se myun. Ia juga melakukan hal yang sama dengan gadis itu, menangkupkan kedua tanganya seraya berdoa meminta kepada Tuhan. Se myun yang merasakan ada orang lain bersamanya mulai membuka mata. Pelan-pelan kepalanya ia putar untuk menengok kesebelah kanan.
DEGK!.
Seketika se myun membelalakan matanya melihat sosok yang kini tengah berdiri disampingnya. Seorang pria dengan kaos berbalut cardigan abu-abu. Wajahnya nampak begitu tenang dan damai dalam pejamnya doa. 
“cha..chanyeol…”. gumam se myun.
 Hatinya entah ingin meledak-ledak, air matanya kembali berjatuhan. Rasanya baru saja ia berdoa meminta kepada Tuhan agar chanyeol berada bersamanya, dan kini pria dengan senyum yang hangat itu benar-benar telah muncul. Muncul bahkan dengan senyum kecil yang melengkung dibibirnya yang tengah mengucap-ucapkan permintaan. 
Se myun mengangkat pelan-pelan tanganya lalu ia dekatkan kewajah chanyeol, sedikit lagi tanganya hampir menyentuh pipi itu namun gerakanya terhenti seketika. Seketika ia mematung saat chanyeol menoleh dan menatapnya dengan tatapan yang BERBEDA!. Tatapan yang seolah-olah kebingungan dengan tangan yang tepat berada didepan wajahnya. 

“hey..maaf. bisakah kau menyingkirkan tanganmu”. Ucap chanyeol lembut dengan tersenyum.

“chanyeol..”.  lirih se myun miris.

“kau mengenalku?”. Tanya chanyeol polos dan menunjuk wajahnya sendiri.
Se myun terdiam. Ia merasakan jika kali ini hatinya benar-benar memanas. Sungguh, ia ingin memecahkan tangisnya. Tapi apa guna? Menangispun sepertinya itu akan membuat pria yang kini ada didepanya makin bingung. Se myun mengingat sesuatu, “benturan dikepalanya sangatlah keras sehingga menyebabkan kemampuan mengingatnya akan menghilang setelah dia tersadar nanti. Sekalipun nanti dia masih mengingat tentang hal-hal dulu, itu tak akan bertahan lama”. DEGK!. Se myun terlonjak seketika saat mengingat kata-kata dokter beberapa hari yang lalu. 24 jam? 24 jam telah berlalu dan seperti apa yang dikatakan oleh dokter bernama joonmyeon itu bahwa kini chanyeol telah kehilangan ingatanya. 

“oh Tuhan…”. Desis se myun dan ia menangkup mulutnya sendiri menutupi tangisnya. Ia berlari dari depan pria itu. Se myun berlari sambil menangis membuat chanyeol makin kebingungan.

“ada apa dengan gadis itu..”. tanyanya dalam hati. Chanyeol yang tersadar jika se myun telah berlalu ia segera berlari menyusulnya keluar. Hatinya dipenuhi tanda tanya besar mengapa gadis itu tahu namanya, mengapa gadis itu juga tiba-tiba menangis didepanya. Chanyeol dengan kaki panjangnya dengan  mudah menyamai derap kaki se myun yang baru sampai dihalaman gereja.

BRUUGKK!. Se myun tersungkur
“aaarrgghh..”. erang se myun memegangi lututnya yang berdarah tertumbuk kerikil tajam. Ia menangis. Se myun terduduk ditanah sambil memegangi lututnya seolah-olah rasanya begitu sakit hingga membuatnya tak mampu berdiri. Bukan itu, padahal bukan itu yang membuatnya menangis, bukan itu yang membuatnya tersungkur hingga rasanya sulit untuk bangun. Tapi kenyataan jika kini chanyeol tak lagi mengingatnya, chanyeol tak lagi merasa jika ia adalah momonya.

“gwencanayo? Mari bangun nona..”. chanyeol mengulurkan tanganya, namun se myun masih diam tak berkutik dan menunduk. 
“nona..”. panggil chanyeol lagi.
“gwenchana..”. tepis se myun dan mencoba bangun sendiri.
BBRUGKK!.  Untuk yang kedua kalinya se myun terjatuh dan kini tepat dihadapan chanyeol. Chanyeol cukup panik dan tanpa meminta ijin ia langsung menggendong ala bridal se myun yang isaknya mulai reda.
“turunkan aku..”. pinta se myun lirih. 

“baik tapi nanti nona..”. sela chanyeol. Pria itu berhasil membuat se myun membisu meski dalam hatinya ia menjerit pilu. Se myun menjatuhkan air matanya lagi.

“kenapa kau seperti ini momo..”. gumam se myun dalam hati. Chanyeol menurunkanya dan mendudukanya pada sebuah kursi taman depan gereja.

“tunggu dulu sebentar disini, aku akan mencarikanmu obat”. Ucap chanyeol seraya melangkah.

“tidak perlu..”. se myun mencegah chanyeol dengan menggenggam tanganya. Otomatis chanyeol memandangi tanganya.

“euhm..maaf”. ucap se myun seraya menarik tanganya lalu ia sembunyikan dibalik saku bajunya. Chanyeol tersenyum dan ia mengurungkan langkahnya. Ia ikut mengambil posisi dibangku taman itu.
“coba aku lihat..pasti sakit”. Kata chanyeol. Pria itu coba mengangkat kaki se myun dan ia letakan dipangkuanya. Awalnya se myun menolak namun chanyeol memaksanya.
“aku tidak punya obat, jadi setidaknya lukamu harus bersih dulu..”. lanjutnya seraya mengambil secarik sapu tangan berwarna biru muda dari saku cardiganya. Dengan berhati-hati pria bernama park chanyeol itu mengusap darah yang mengalir dilutut se myun dan sesekali meniupnya agar tak terasa perih.

“tcah,,sudah bersih”. Ucap chanyeol.

“gomawo..”. se myun menundukan kepalanya. Kini ia menghadap lurus kedepan tanpa menatap chanyeol, kakinya pun telah ia tarik keposisi semula.

“nona..kenapa kau tahu namaku?”. Tanya chanyeol. Pertanyaan itu terasa seperti air raksa yang menyiram hati se myun, terasa panas perih. 

“ah iya.. dulu aku ingat kau adalah pasien tabrak lari yang kamarnya ada disebelah kamarku”. Jawab se myun setenang mungkin. Ia tidak ingin menangis lagi didepan pria yang sudah tak mengingatnya. Mendengar itu chanyeol mengerutkan keningnya.

“benarkah?”. Tanyanya seolah-olah tak percaya. Sama seperti dulu, chanyeol juga akan mengatakan itu jika se myun berbohong. Se myun mengangguk lemah. Chanyeol tampak manggut-manggut.

“begitu ya..lalu kau sakit apa nona? Ehm,,siapa namamu?”. 

“hanya.. dehidrasi berat saja. Kau bisa memanggilku baby”.

“baby? Itukah namamu?”. Tanya chanyeol tak mengerti. Se myun nampak bangun dari duduknya.

“seseorang dimasa lalu biasa memanggilku seperti itu..jadi panggil saja aku begitu”. Ucap se myun lalu ia mulai berjalan meski kakinya masih terasa kaku dan perih. Ia tak menghiraukanya, yang kini ia rasakan  hanyalah perih yang ada dalam hatinya.

“baby..bisakah kita bertemu lagiii…”. Teriak chanyeol pada se myun yang makin menjauh. Se myun berbalik.

“jika Tuhan mengijinkan..”. balasnya dan melanjutkan langkahnya.

Se myun memandang kosong makanan yang ada dalam pangkuanya. Ia sama sekali tak berselera sedikitpun. Sudah seharian sejak tadi pagi dari gereja itu ia tak mengisi perutnya, jika seperti itu bagaimana dia bisa meminum obat.
CEKLEK!. 
Pintu kamarnya terbuka dan menampakan seseorang yang sudah tak asing lagi baginya. Seseorang yang benar-benar telah membuktikan penyesalanya pada se myun. Kriss. Pria itu menghembuskan nafasnya berat melihat keadaan se myun yang makin kurus. Lingkaran hitam mengelilingi kelopak matanya yang indah. Kriss mendudukan dirinya disisi ranjang. Ia meraih nampan makanan yang sudah bibi han pembantu se myun siapkan sedari tadi. Kriss mengambil sesendok sup kacang merah dan mencoba menyuapkanya pada gadis terkasihnya itu.

“buka mulutmu..aaaa..”. kriss membimbing se myun untuk membuka mulutnya namun se myun masih tetap saja menutup mulut. Bahkan ia memalingkan wajahnya.
“tidak mau..”. tolak se myun tanpa menatap kriss.

“sekali saja..ayo se myun”. Bujuk kriss.

“tidak!”. Bentak se myun pada kriss. Beberapa detik kemudia ia langsung memandang kriss setengah menyesal.

“maaf..”. sesal se myun yang merasa bersalah karena membentak kriss.

“tak apa..”. balas kriss dengan tersenyum.

“kau mau jalan-jalan?”. Kriss menawarkan. Se myun menoleh, ia tampak berpikir sejenak lalu akhirnya ia mengangguk pelan.
Kriss memakaikan syal merah pada se myun agar tak kedinginan. Se myun menurut saja, sehangat apapun kriss padanya se myun masih bertahan dengan sikapnya yang dingin sedingin salju diluar sana. 

“sudah siap untuk bersenang-senang?”. Tanya kriss pada se myun, lagi-lagi se myun hanya mengangguk. Setelah itu kriss menuntun se myun menuju mobilnya yang terparkir manis diluar rumah se myun. Rumah yang terasa sunyi karena hanya ada se myun dan bibi han didalamnya. Orang tua se myun berada diluar negeri sejak ia masih bersekolah tingkat menengah pertama, jadi hidup mandiri itu adalah hal yang biasa bagi seorang kim se myun.

Tak butuh waktu lama untuk kriss membawa se myun kesuatu tempat. Kini mobilnya telah berhenti. Sebuah taman bermain yang nampak indah bercahaya kini ada didepan mata se myun. Perpaduan cahaya-cahaya terang berwarna-warni dengan sapuan salju membuatnya tampak begitu indah(bayangin aja suasana taman bermain dimalam hari di MV the seeya more & more). Mata se myun berbinar saat ia sudah turun dari mobil kriss, senyuman melengkung dari bibirnya. Kriss yang berdiri disampingnya ikut tersenyum. Betapa leganya ia saat bisa melihat kembali senyum merekah se myun.

“kriss ayoooo…”. Pekik se myun seperti anak kecil dan secara tak sadar ia manarik pergelangan tangan kriss. Spontan kriss terlonjak dan memandangi tanganya lalu ia tersenyum senang. Mereka tampak seperti sepasang kekasih dan terlihat begitu serasi. Kecantikan alami se myun bersanding dengan wajah kriss yang Tuhan cetak dengan sempurna membuat beberapa pasang mata menatap mereka iri. Kriss mengikuti kemanapun se myun berlari. Kesebuah penjual aksesoris, kepenjual balon, dan tak lupa satu hal yang paling se myun suka, kembang gula. Se myun meminta 2 kembang gula berwarna pink sekaligus, baiklah itu bukan hal yang sulit bagi seorang kriss. 

“gomawo..”. ucap se myun dengan manisnya. Sikapnya malam ini begitu manis. Entah, mungkin kepenatan hatinya sudah mencapai puncak hingga ia ingin tersenyum lepas lewat malam ini bersama kriss dan sejenak menghapus bayang seorang momo yang menyesakkan dadanya.

“kriss aku mau itu..”. rengek se myun childis yang menunjuk sebuah stand permainan memanah dengan hadiah boneka teddy bear besar. Kriss terkekeh.

“aku bisa membelikanmu boneka itu sebanyak yang kau mau se myun..”. 

“aku mau yang disana, aku mau kau yang memanahnya..”. jelas se myun dengan bersungut, membuatnya tampak manis dimata kriss. 

“hhmm..baiklah nona”. Ucap kriss dengan melakukan gerakan hormat yang membuat se myun terbahak. 
Kriss dan se myun mendekati stand tersebut. Setelah menyodorkan beberapa lembar uang akhirnya kriss mendapatkan 3 buah anak panah yang nantinya akan ia gunakan untuk bermain. Kriss memposisikan dirinya didepan pembatas, matanya mulai memicing bidikanya saat anak panah sudah berada ditanganya. Pelan-pelan kriss menarik anak panah pertama.
ZZTTTTT..panahan pertama dan ternyata melenceng. Se myun yang sedari tadi menyemangatinya langsung berubah masam. Kriss mencoba untuk yang kedua kalinya.
ZZZZTTT.. dan yang kedua itu, gagal lagi. Melihat itu se myun makin lemas. Ia sudah seperti putus harapan.
“dasar payah..”. ejek se myun pada kriss. Kriss yang melihat se myun seperti itu kini berusaha lebih keras lagi.

“semoga ini berhasil”. Gumam kriss yang mulai mengambil panah terakhirnya.
ZZTTTT!. Tepat sasaran.

“yeeeaahhh…!”. Ucap kriss dengan mengepalkan tanganya.

“yaaakkkkkk..kriss kau berhasil kau berhasil..”. pekik se myun. Tanpa sadar ia memeluk kriss kegirangan, membuat kriss merasakan jantungnya hampir meloncat senang. Kriss balik memeluk se myun dan mereka menjadi pusat perhatian disana. 
“kau membuatku jatuh cinta padamu lagi se myun”. Kriss menggumam.
“eh..”. se myun yang tersadar langsung melepas pelukanya. Pipinya yang pucat merona merah. 

“ini hadiahnya tuan…”. Sipemilik stand menyodorkan hadiah memanah itu pada kriss. Setelah menerimanya kriss membungkukan badan dan mengucapkan terimakasih. Teddy bear berwarna coklat itu kriss berikan pada se myun yang masih tampak kikuk.

“ini..”. kriss memberikanya pada semyun.

“terimakasih tuan wu..hehe”. ledek se myun dengan memanggilnya tuan wu.
Setelah cukup lama bermain-main akhirnya se myun meminta untuk pulang. Kriss menurutinya dan mereka kembali menuju mobil. Sesekali kriss membenahi syal yang melingkar dileher se myun membuat mereka tampak seperti sepasang kekasih yang harmonis. Kriss membukakan pintu mobil untuk se myun dan se myun masuk kedalamnya disusul kriss disebelah kiri. Kriss mulai menjalankan mobilnya meninggalkan taman bermain. Pria itu tersenyum-senyum sendiri jika mengingat apa yang baru saja ia lewati bersama se myun. Tersenyum, tertawa bermain bersama membuatnya seperti kembali ke waktu dimana dulu se myun masih menggelayut padanya, saat cincin indah itu masih melingkar diantara jari mereka.
“hey kau kenapa…”. Tanya se myun yang merasa aneh melihat kriss tersenyum-senyum sendiri.

“what? Ah nothing..”. jawab kriss sekenanya. Setelah itu mereka terdiam cukup lama, hanya deruan mobil lain yang terdengar.

“kriss.. bolehkah aku bertanya sesuatu?”. Se myun membuka pertanyaan.

“bertanyalah se myun”.

“tentang itu..tentang gadis bernama seehi itu bagaimana kau tahu jika dia tunanganya. Lalu bagaimana kalian,,bisa tahu keberadaan kami dimana”. Tanya se myun ragu.
CCIITTTTTTT!. Kriss menginjak rem mendadak dan langsung menepi, membuat jantung gadis yang duduk disampingnya hampir terlempar. Se myun yang terkejut hanya diam, ia sama sekali tak memandang kriss dan hanya menanti jawaban darinya.

“hhhhhhhhhhh….”. terdengar kriss bernafas gusar. Pria itu tampak mulai mengambil nafas untuk bicara. “dia,,,dia adalah sepupuku di Cina se myun, aku tak tahu jika laki-laki yang ia cari adalah orang yang tengah bersamamu”.

“apa?”. Se myun terkejut. “jadi benar chanyeol mempunyai hubungan denganya”. Batin se myun. Se myun mulai kalut, apalagi mengingat pertemuanya dengan chanyeol pagi tadi dalam keadaan dia yang telah melupakanya. Matanya mulai berkaca-kaca dan mengembun. Perlahan embun hangat itu meleleh mengaliri pipinya yang bersih.
“maaf.. aku, merusak kebahagiaanmu”. Lirih kriss menunduk.

“tidak.. bukan kau yang salah kriss. Tapi aku”. Balas se myun. Kriss mengangkat kepalanya dan menatap se myun sendu.

“mungkin kau benar..aku harus mulai melepaskan sesuatu yang tidak nyata. Berhenti menunggu sesuatu yang belum pasti kedatanganya. Tidak nyata, aku sadar. Sesuatu yang tidak nyata tidak selalu sesuatu hal tidak nampak. Sekalipun hal itu ada didepan mata, tapi apa artinya jika tangan tidak bisa meraihnya. Itu semu bukan? Samar..”. tutur se myun.
“terlebih.. ada orang lain yang lebih berhak untuknya..”. lanjut se myun dengan nada yang mulai terputus-putus. Ia terisak. Melihat itu kriss hendak meraih kepala se myun namun dengan cepat se myun menolak. Tiba-tiba ia berlari keluar dari mobil meninggalkan kriss.
“se myun..kim se myuuuun”. Teriak kriss frustasi.

Se myun mengusap pipinya yang basah. Sudah cukup jauh ia berlari dan kini ia merasakan lelah. Terlebih lagi jantungnya ia rasakan kini melemah kembali. Se myun duduk disebuah halte yang cukup sepi. Malam menunjuk jarum jam diangka 11. Salju sudah tak berjatuhan, namun entah mengapa suasana berubah menjadi hangat. Se myun menatap sepasang kekasih yang melintas didepanya dengan bergandengan, tampak begitu hangat.
“mungkin akan turun hujan jadi suasana cukup hangat”. Ucap sang pria yang dibalas anggukan oleh gadisnya.
Se myun terdiam saat 2 orang itu berlalu. Kepalanya mendongak menatap langit.
“gelap..”. gumamnya.

“dimalam hari langit memang selalu gelap bukan”. Celetuk seseorang yang mengejutkan se myun. Mata se myun membelalak saat mendapati chanyeol telah duduk disampingnya.

“hay baby..”. sapa chanyeol dengan tersenyum lebar menampakan deretan giginya.

“euh,,hai..”. balas se myun singkat karena masih terkejut.

“sedang apa kau disini?”. Tanya chanyeol.

“aku..ehm menunggu seseorang”.

“kekasihmu?”. Tanya chanyeol lagi.

“………….”. se myun membisu. Ia menunduk. Sungguh, rasanya ia ingin menjerit dan menangis dalam pelukan chanyeol. Ia kekasihnya, bagaimana bisa ia mengatakan jika se myun menunggu orang lain. Bisa saja, karena bagi chanyeol se myun adalah orang lain diingatanya. Ia ingin menangis, benar-benar ingin menangis.

“kekasihku ada disini,,tapi dia..tidak mengingatku”. Ucap se myun yang membuat chanyeol heran.

“bagaimana bisa?”.

“entahlah..mungkin, takdir menggariskan seperti itu”. Jelas se myun yang ditanggapi anggukan dari chanyeol. Se myun melirik benda yang chanyeol bawa. Sebuah gitar. Se myun terus memandanginya hingga chanyeol tersadar jika gadis itu tengah memperhatikan gitar miliknya.

“park chanyeol..maukah kau memainkan itu untukku?”. Pinta se myun dengan tersenyum kecil. Chanyeol menunjuk gitarnya sendiri.

“ini? Baiklah..tapi aku tidak pandai bernyanyi. Bagaiman jika kau yang menyanyi aku yang memainkan gitarnya.eottae?”. chanyeol menawarkan. Se myun pun mengangguk.

“lagu apa?” tanya chanyeol pada se myun. Se myun tampak berpikir, hingga matanya berbinar dan ia tersenyum masam.

“seeya..more and more”. Ucap se myun.

“baiklah..”. chanyeol menyanggupi. Chanyeol mulai menjetik-jetikan jarinya sesaat lalu menyentuh senar gitarnya. Petikan-petikan khasnya mulai terdengar. Saat itu pula se myun mulai bernyanyi…
“sarangi dog haesseot nabwa
kkaeji motal ibyeore chwi haesseo
ijeuryeo halsurog nae
on momi deo apeun geol
neol miwo hamyeon halsurog
joheun mameuro bonaeryeo halsurog
mworhae dohamyeon halsurog
jakku nunmurina
myeot shigan jam mot
jago jib bakkeuro
dashi ilsang sogeuro
neowa hamkke geonildeon
geu geori sogeuro”

sebelum memasuki bagian reff se myun berhenti sejenak, ia meraskan air matanya hampir tumpah mengingat jika sebelumnya mereka berdua pernah melakukan hal ini. Chanyeol terdiam menunggun se myun kembali bernyanyi. Betapa sesaknya hati se myun saat menatap wajah chanyeol yang datar seperti saat ini padanya. Tak ada tatapan penuh cinta seperti sebelumnya atau pelukan hangatnya. Se myun mengatur nafasnya dan melanjutkan lagu itu.
geunal bam jakku
meoreojineun neoreul jabgo
tto jabeuryeo hamyeon halsurog
deo meoreo jideon neoui geu dwit moseub
wae ireohge naege seulpeun
sarang gareuchyeo jungeoya
bogo shipeo neoreul
jiuryeogo hamyeon halsurog
bogo shipeo neoreul
jiuryeogo hamyeon halsurog

Lagu itu berkahir bersamaan dengan petikan terakhir chanyeol. Pipi se myun telah basah dan ia usap dengan cepat. Chanyeol tersenyum kearahnya. Membuat perasaan se myun  makin tak karuan. “tak tahukah senyumu membuatku hatiku makin pedih chanyeol”. Batin se myun menjerit.

“baby.. maukah kau mengingatku? Meski seperti yang kau katakan jika kau mengenalku karena kita sama-sama dirawat dirumah sakit yang sama apa kau akan melupakanku?”.

“kenapa kau berkata begitu chanyeol? Tentu aku akan mengingatmu”. Balas se myun. “dan selalu mengingatmu”. Lanjutnya dalam hati.

“aku akan kembali ke Cina bersama keluargaku. Aku sadar jika aku masih mempunyai banyak tanggungan yang harus aku selesaikan. Sebagai lelaki dewasa bukankah aku harus bertanggung jawab? Hehe.. jadi maukah kau tetap mengenang pertemuan kita?”. Lanjut chanyeol dan kali ini ia mengacungkan kelingkingnya pada se myun. Se myun tersenyum kecut dan membalas tautan jari pria itu. Mereka seolah-olah tengah berjanji kelinging seperti anak kecil yang telah berteman lama lalu akan saling berpisah. Se myun merogoh saku mantelnya yang tebal. Benda lembut berwarna biru muda ia ambil dari sana. Sebuah sapu tangan yang dulu chanyeol gunakan untuk menyeka lukanya.
“ini.sapu tanganmu waktu itu. Aku telah mencucinya..chanyeol, terimakasih”. Ucap se myun dan ia bangkit.

“ambilah baby..kenapa kau kembalikan padaku?”. Chanyeol mencegah se myun yang hampir pergi. Se myun berbalik.

“itu bukan hak ku chanyeol. Terimakasih kau sudah menyeka lukaku. Sapu tangan, pertemuan sapu tangan akan manis diawal namun akan berakhir dengan menyedihkan, itu menurut buku yang aku baca. Semoga kita tidak seperti itu..simpanlah milikmu itu”. Tutur se myun.

“baiklah..”. chanyeol mengalah dan meraih sapu tangan miliknya.

“kapan kau kembali ke Cina?”. Tanya gadis itu.

“lusa.. dan aku akan memulai hidup yang baru”. Jawab pria manis itu dengan mata yang berbinar. “memulai hidup yang baru? Tanpa aku?”. Tanya se myun dalam hatinya yang miris. Matanya hampir menumpahkan genanganya lagi namun sebisa mungkin ia tahan. Ia memaksakan bibirnya agar tersenyum.

“berhati-hatilah.. hiduplah dengan baik..dan, jangan pernah lupakan orang-orang yang mencintaimu”. Pesan se myun.

“tentu.. tapi, baby bisakah besok pagi kau datang ke gereja itu?”.

“kenapa? Apa kau ingin bersembahyang bersamaku sebelum kau pergi?”. Tanya se myun penasaran. Jujur, ia masih sangat berharap jika chanyeol akan kembali membawanya pada hari-hari yang manis dan romantis seperti sebelumnya.

“ah..lebih dari itu. Akan ada hal besar besok. Jadi, datanglah baby”. Kata chanyeol lalu pria itu juga nampak bersiap untuk pergi.

“sampai jumpa besok baby..bye”. chanyeol melambaikan tanganya pada se myun seraya tersenyum hangat. Se myun memandangi punggung chanyeol yang mulai jauh meninggalkanya di halte itu. Ia sama sekali tak menoleh kebelakang memandang se myun.
“padahal baru saja aku yang lebih dulu berbalik dan akan melangkah pergi, tapi kini malah kau yang berbalik dan lebih dulu melangkah pergi meninggalkanku chanyeol”. Gumam se myun perih. Ia masih mematung disana meski chanyeol telah menghilang dari pandanganya. Malam yang makin sunyi dan menusuk tak membuatnya merasa lelah berdiri. Hingga air yang sedari mungkin telah tebal menggantung mulai berjatuhan membasahinya. Hujan.

Kriss tampak begitu panik saat menyentuh kening se myun yang sangat panas dan keningnya teraliri keringat dingin. Bibi han mengatakan jika se myun pulang larut malam dalam keadaan menangis dan badan yang basah kuyup.
“apa lagi yang membuatmu berdiri lagi ditengah hujan se myun”. Batin kriss sedih. Ia dengan telaten mengompres kening se myun agar membantu demamnya turun sambil menunggu dokter datang. Rasanya begitu sakit saat melihat wanita yang paling ia cintai itu tergolek lemah seperti tanpa nyawa, nafasnya juga terdengar begitu pelan dan tersendat-sendat seperti sedang sekarat. 

“apa semalam dia sempat makan dulu bibi?”. Tanya kriss pada bibi han yang mengemasi baju basah yang se myun kenakan semalam. Bibi han tampak berpikir sejenak.

“sejak kemarin pagi, sepertinya setiap makanan yang bibi buatkan untuknya tak  tersentuh sedikitpun tuan”. Jawab bibi han dengan sedih. Kriss menggelengkan kepalanya. Ia mengelus pipi se myun yang menirus pelan.

“kau memang sangat keras kepala se myun..”. batin kriss berbicara. Ia bangkit dan menuju dapur berniat untuk membuatkan makanan untuk se myun.
“aku akan membuatkan sup kesukaan se myun..tolong bibi jaga se myun”. Pinta kriss dengan tersenyum ramah yang dibalas dengan senyum oleh bibi han. Wanita paruh baya yang telah lama hidup bersama se myun itu telah mengerti siapa dan bagaimana kriss yang sangat mencintai nona mudanya. Bibi han membenahi selimut se myun. Beberapa detik kemudian se myun menggeliat lemah dan mengerjap-erjapkan matanya. Matanya yang sayu mulai terbuka dan memperlihatkan bekas menangisnya semalam.
“nona sudah bangun?”. Bibi han mengelus puncak kepala se myun seperti putrinya sendiri.

“ini..jam berapa bi..”. ucap se myun dengan parau. Ia mencoba duduk dengan tubuhnya yang lemas.

“hampir jam 9 pagi.. ada apa nona?”.

“apa? Jam 9”. Pekik se myun terkejut.  Ia langsung melompat dari ranjangnya dan menyambar sweater putihnya. Ia mencoba menyingkirkan bayangan matanya yang tampak berputar-putar pening. Se myun ingat jika semalam chanyeol mengatakan jika akan ada suatu hal yang besar pagi ini bersamanya. Hal itu membuatnya melupakan jika kondisi tubuhnya sangatlah lemah. Semuanya akan ia lewati asal ia bisa bersama chanyeol, momonya.
“nona anda mau kemanaaa…”. Teriak bibi han cemas yang tak bisa mencegah kepergian se myun. Se myun berlari dengan cepat menuruni anak tangga dan keluar dari rumah dengan masih menggunakan dress tidurnya yang putih senada dengan sweaternya. Kriss yang mendengar teriakan bibi han sontak berlari menuju kamar se myun.
“ada apa? Mana se myun”. Tanya kriss cemas.

“nona berlari keluar tuan.. hiks hiks”. Tangis bibi han tak terbendung lagi melihat keadaan se myun yang menyedihkan. Kriss membulatkan matanya terkejut. Tanpa pikir panjang ia berlari keluar untuk mencari se myun dengan mobilnya.

Se myun dengan tergopoh-gopoh menuju gereja tempat ia bertemu chanyeol. Gereja yang sebenarnya selalu ia datangi untuk menangkan diri jauh sebelum ia mengenal chanyeol. Jantungnya berdebar entah bagaimana, ia takut jika chanyeol telah menunggunya lama atau bahkan telah pergi lebih dajulu. Langkahnya yang semula begitu cepat tiba-tiba memelan saat ia mulai mendekati gereja. Suasana yang janggal terdapat disana. Se myun merasakan jantungnya berdebar diatas normal saat menangkap hawa-hawa yang memanaskan matanya. Nuansa putih, bunga-bunga berhias indah dan beberapa orang yang tampak mengenakan gaun formal bernuansa sama ada digereja itu. 
“kenapa tempat ini begitu ramai?”. Se myun bertanya-tanya. Ia mengedarkan pandanganya kesemua arah untuk mencari sosok chanyeol. Dengan ragu ia memasuki gereja yang ternyata disana tengah berlangsung sebuah acara sakral. Terdapat sebuah altar dengan taburan banyak bunga dan diujung depanya sudah berdiri sepasang insan. Seorang gadis yang sudah ia temui sebelumnya tengah berucap janji dengan pria yang mengenakan setelan jas putih. Jas yang sangat ia kenal. Jas rancanganya! Yang ia buatkan untuk chanyeol. Seketika matanya memanas saat mendapati sosok yang mengenakan setelan itu. CHANYEOL!. Pria itu baru saja selesai bersumpah didepan Tuhan dengan gadis yang ia ketahui bernama seehi itu dan kini ia hendak menciumnya.
DEGK!. Se myun merasakan jantungnya berhenti seketika melihat itu. Bulir-bulir hangat meluncur bebas dipipinya yang pucat pasi. “chanyeol,.tidaakk!”. jerit se myun namun dalam hati. Ia seperti orang bodoh yang berdiri didepan pintu gereja seorang diri menyaksikan laki-laki yang ia cintai menikah dengan gadis lain. Hatinya hancur. Dunianya seakan kiamat tiba-tiba. Langit telah runtuh baginya. Kepedihanya ditambah saat chanyeol kini menatapnya dengan tersenyum.
“se myun..”. gumam chanyeol dengan tersenyum. Ia berjalan keluar dengan menggandeng seehi yang kini telah sah menjadi istrinya. Ia merasa jika sahabatnya telah datang untuk menghadiri pernikahanya. Perlahan-lahan chanyeol dan seehi kini telah berhadapan dengan se myun.
“terimakasih telang datang..aku senang kau ada disini se myun”. Ucap chanyeol. Ia benar-benar tak merasa jika se myun hampir mati karenanya.

“jadi..jadi ini yang kau katakan sebagai sesuatu yang besar?” tanya se myun dengan terbata-bata. Chanyeol mengangguk.

“yah.. karena inilah awal hidupku dan seperti yang kau katakan jika kau harus hidup dengan baik, maka seperti inilah. Aku akan meneruskan bisnis keluargaku bersama gadis ini.. tenang aku akan selalu mengingatmu se myun”. Tutur chanyeol. Seehi yang berada disampingnya hanya diam menunduk. Ia tak berani menatap se myun karena pasti rasa bersalah akan muncul dihatinya. Ia juga seorang wanita, yang pastinya bisa merasakan sakit yang se myun rasakan.

“terimakasih se myun.. kau telah menjadi temanku. Kau juga harus hidup dengan baik. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali. Keberangkatanku ke Cina dimajukan, jadi setelah ini aku akan langsung terbang kesana. Sampai jumpa se myun”. Ucap chanyeol yang membuat se myun ternganga. Chanyeol melewati se myun yang masih terdiam kaku. Ia menuju mobilnya yang telah terhias dengan bunga-bunga dengan tetap menggamit tangan seehi. 
“park chanyeoooll!!!!”. Teriak se myun memanggil chanyeol yang telah berada dalam mobil. Ia berniat untuk menarik pria itu padanya namun terlambat. Mobil itu telah melaju meninggalkan gereja, meninggalkan se myun.

“park chanyeeooll..momooo..jangan tinggalkan aku,,huhuhuh,,chanyeol,,kembali,,”. Se myun memekik dengan sangat menyedihkan. Ia berlari menyusuri jalan yang disampingnya terdapat danau tempatnya biasa merenung. Ia mengejar mobil yang membawa chanyeol semampunya dengan berurai air mata. Ia tak peduli dengan nafasnya yang hampir habis dan tenaganya. Yang ia harapkan adalah sebuah keajaiban agar chanyeol kembali.
BBRUUGGKKK!. Se myun tersungkur begitu saja. Tubuhnya terseok ditanah yang berlapis aspal tajam. 
“chanyeeeolll”. Pekiknya untuk kesekian kalinya. Mobil itu telah jauh menghilang dari pandanganya. Ia masih menangis histeris dengan keadaan menelungkup dijalan. Langitnya yang telah runtuh kini benar-benar berubah menjadi gelap. Seketika suara guntur menggema seolah ikut berteriak pada dunia.
Hujan. Langit telah menumpahkan isinya dan mengguyur tubuh lemah se myun yang begitu meyedihkan dipandang mata. Gadis itu bersikukuh bertahan disana. Air matanya telah bercampur bersama hujan. Sakit. Perih. Dingin. Semua itu bercampur jadi satu memenuhi dadanya hingga membuatnya begitu sesak bernafas. Dulu disaat ia berdiri dibawah hujan, maka chanyeol datang dan mengatakan padanya bahwa ia takkan membiarkanya menunggu lagi dibawah  hujan, dulu saat ia hendak melangkah pergi chanyeol selalu mengatakan jangan pernah tinggalkan aku. Namun semuanya kini telah berbalik, seolah semua perkataan itu adalah sesuatu yang semu, sesuatu yang samar. Sekalipun ia menunggu dibawah hujan seribu tahunpun chanyeol tak akan datang lagi. Kali ini Tuhan telah menggariskan takdirnya. Takdir yang memaksa se myun untuk tak lagi mengharapkan seseorang yang bahkan tak mengingatnya. 

“park..chanyeol..”. suara se myun makin melemah dibawah hujan. Dengan sisa tenaganya ia bangkit. Ia berdiri dan dengan susah payah berjalan pelan menuju sebuah tempat yang sedari tadi sudah matanya lihat. Hatinya yang gelap seketika membuatnya melangkah dengan pasti.

“sudah tidak ada yang aku tunggu lagi..tidak bisa berdiripun tak apa. Biar aku menyimpanmu bersama hujan ini chanyeol..”. isak se myun yang kini telah berdiri ditepi danau. Air danau yang terlihat pekat tersiram air hujan sama sekali tak membuatnya takut, malah seolah-olah ia melihat bayangan chanyeol disana. Ditengah deru air hujan, se myun bersenandung lirih. Melantunkan sebuah lagu yang menyiratkan sakit dihatinya.

“Sarangeun ireohke
Cinta seperti ini 
Sarangeun ireohke
Cinta seperti ini 
Eoneunarui neoreul nae ane chaeweogago
Suatu hari kau akan mengisi kekosonganku 
Sirin nae gaseume
Bahkan jika sakit dalam hatiku 
Nunmureul namgyeodo
Bahkan jika penuh dengan airmata 
Neol ango saragaltheni
Aku akan hidup dengan memelukmu 
Sarangeun nunmureul jiunda
Cinta menghapus airmata “

Bait terakhir terdengar makin menyesakan dengan tangisnya.
“my acoustic boy..momo..hiks hiks..saranghae”. bisiknya pada air danau.
BBYURRRRRR!!!. Se myun menjatuhkan tubuhnya yang telah lelah pada air danau disaat huja itu.
“kim se myuuuuuunnnnnnnnn!!!!”. Teriak seseorang.

Sepahit apapun jalan kehidupan, didalamnya Tuhan sangatlah adil dan selalu menyiapkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak selalu datang sesuai rencana dan apa yang kita inginkan. Bukankah sudah jelas semua yang ada didunia ini selalu berdampingan? Setelah datangnya badai hujan maka akan datang pelangi, setelah air mata bercucuran maka akan menyusul sebuah senyuman, setelah berakhirnya sebuah kisah lama maka akan terbuka kisah yang baru pula.
Tahun-tahun telah berlalu, 6 tahun itu sudah cukup membuat seorang wanita yang tengah berkutat dengan pensil-pensil lukisnya itu bisa hidup dengan normal layakanya wanita lainya. Kembali bernafas, kembali tersenyum. Kembali hidup dengan baik, memiliki banyak hal indah, memiliki pendamping bahkan malaikat pelengkap yang lucu meski sesekali membuatnya tersulut emosi. Wanita itu sesekali membenarkan letak kacamata yang bertengger dihidungnya. Ia masih fokus menatap sketsa yang ia bentuk memenuhi pesanan client juga deadline untuk perusahaanya sendiri. Hingga saat…….SSRREETTT. Desainya tercoret sangat jelas.

“oh God.. claraaaaaaaaa!!!!”. Wanita itu memekik histeris saat desainnya rusak karena ulah putrinya yang memang suka bertingkah usil. Clara, itu nama putrinya yang memiliki perpaduan paras sempurna darinya dan suaminnya yang berdarah Cina Kanada. Namun janganlah tertipu dengan parasnya karena ia memiliki sifat yang sangat mirip dengan masya (ituloh tokoh cartun masya & the bear) yang amat sangat menjengkelkan. Clara hanya nyegir kuda melihat ibunya menjerit-jerit.

“mommy, I want ..”.

“stoopp!” teriak wanita dengan nama yang berganti menjadi wu se myun itu pada clara. Ia tak ingin mendengar rengekan-rengekan putri semata wayangnya yang sudah pasti akan sangat memberatkan. Bayangkan saja, untuk anak seusia clara ia sudah terbiasa untuk merengek meminta barang-barang seperti orang dewasa. Seleranya sama seperti pamanya huang zitao yang hanya mau dengan barang-barang bermerk gucci, dandananya sama seperti luhan yang selalu perfect. Beruntung se myun mempunyai seorang suami aktor terkenal hingga ia tak harus merasa tercekik dengan kehidupan hedonis putrinya.

“hey hey.. ada apa kalian berteriak-teriak”. Ucap seorang pria yang datang sambil melepas dasinya. Namun tanpa se myun menjawab pun pria yang berstatus suaminya itu sudah tahu jawabanya saat melirik kertas yang se myun genggam penuh dengan coretan.

“o’oow…clara kau membuat masalah lagi”. Gumamnya dan geleng-geleng kepala.

“tidak daddy.. clara hanya ingin belajar melukis seperti mommy”. Clara membela dirinya

“lihat tingkah anakmu kriss! Dia merusak desain ku..”. ucap se myun histeris. Kriss mengangkat sebelah alisnya.

“hey dia juga anakmu..”.

“kau yang membuatnya bodoh”.

“kita bekerjasama sayang”. Ledek kriss yang malah membuat se myun makin geram.

“aarrgghhh krissssssss cepat enyah dari hadapanku atau kau akan aku tusuk dengan pensil lukisku!”. Se myun mengerang frustasi dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Wanita itu menangis saking kesalnya pada suami dan anaknya yang begitu suka membuatnya frustasi. Kriss yang menyadari akan adanya bom sekelas hiroshima itu segera meraih clara dalam gendonganya dan berlari keluar meniggalkan se myun yang mengamuk diruang kerja.

Kriss yang baru saja menengok clara sebelum tidur kini telah kembali kekamarnya. Pelan-pelan ia merebahkan tubuhnya disamping kanan se myun yang sudah terpejam sejak tadi. Kriss tersenyum. Melihat pemandangan wajah istrinya yang damai tertidur adalah obat penawar dosis tinggi yang membuatnya melupakan semua kepenantan hidupnya. Hidung tipisnya, lengkukan indah alisnya, bibirnya yang ranum, serta titik kecil dibawah mata kanan se myun merupakan lukisan indah yang begitu sulit ia dapatkan sebelumnya.
“ya ya..jangan terus memandangi kecantikanku..”. celetuk se myun tiba-tiba yang membuat kriss terkejut. Kriss tertawa dan langsung memeluk tubuh se myun. Merasakan hangatnya yang sudah seperti candu baginya.

“kau tak tidur?”. Tanya kriss yang menumpukan dagu lancipnya dikepala se myun.

“bagaimana aku tidur jika aku terus diawasi, memangnya aku pencuri”. Sungut se myun. Kriss terbahak kecil dan ia mempererat rengkuhan tanganya yang melingkari pinggang se myun. Ia masih bagai bermimpi jika kini se myun benar-benar berada dalam pelukanya sebagai miliknya kembali, dan hanya miliknya. Ia mengingat betapa dulu ia hampir mati saat melihat se myun sekarat setelah menceburkan dirinya ke danau, ia mengingat betapa sulitnya dulu untuk memiliki se myun mengingat kemungkinan hidup se myun kecil. Namun semua itu terbayar saat se myun membuka mata dengar berbinar dan tersenyum kearahnya, saat se myun dengan tulus membuka juga hatinya dan bersedia menerimanya kembali bukan hanya sebagai kekasihnya tapi juga pendamping hidupnya.

“hey kau terlalu erat memelukku kriss..”. protes se myun.

“aku mencintaimu..”. kata kriss.

“aku juga”. Balas se myun tersenyum.

“sangat mencintaimu..”. ucap kriss lagi.

“aku tahu tuan wu”.

“jangan tinggalkan aku..”. kriss masih meracau.

“tidak akan..”. jawab se myun yang menenangkan hati kriss. Pria itu tersenyum dan mengecup kening se myun.

“kau jangan terlalu keras pada clara..”. kriss menasihati se myun yang masih terdiam dalam pelukanya.

“itu karena dia terlalu nakal dan keterlaluan menggangguku kriss..”.

“kau harus sabar”.

“aku selalu mencobanya sayang tapi tetap saja dia berkelakuan devil..hhh”. eluh se myun. Kriss melepas pelukanya dan memandang lekat se myun. Ia mengangkat dagu istrinya itu yang tajamnya hampir sama denganya. Se myun merasakan aura-aura aneh lewat smirk khas suaminya.
“mungkin dia butuh teman beramain sayang..”. ucap kriss yang tersenyum nakal.

“JANGAN MACAM-MACAM KRISS!”. Pekik  se myun dengan ekstra cubitan diperut kriss yang membuat kamar itu dipenuhi teriakan.

END

Hhuuuftttt..akhirnya selesai men. Meski dengan ending yang aneh setidaknya saya sudah lepas dari tanggungan ff ini. Maaf jika sangat buruk maklumlah author gadungan yah gini deh. Tapi tetep donk..mohon RCL yang membangun demi kelangsungan hidup saya…#plaaaakkkkk

Sampai jumpa di ff della wu selanjutnya  the next ff AYANA.hehe

Selamat berpuasaaa

Halaman