MY PROSPECTS IS YOUR HOPE EXO's Fanfiction Story Indonesia

MY PROSPECTS IS YOUR HOPE
|| Cast: Kim Jong In(Kai) [EXO-K] and You [OC] | Support Cast: DO Kyungsoo [EXO-K] | Genre: Friendship, comedy, romance, fluff | Length: <2500w(Oneshoot) | Rating: PG-15 ||
Summary:
“Mungkin kau bisa menyebut namanya dalam pengharapanmu tanpa diketahui olehnya..”
…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***
Hari yang cerah memang sangat menyenangkan untuk pergi keluar, berjalan ditaman, membeli icecream, atau sekedar memakan kue beras ditepi sungai Han dan menunggu sore tiba tanpa melakukan hal apapun.
Tapi kali ini berbeda..
Aku ingin kesuatu tempat. Kesuatu tempat dimana dulu, aku dan temanku Kai sering pergi kesana untuk sekedar bermain basket atau mengerjakan tugas sekolah diatas rumput dibawah sebuah pohon cherry yang rindang disamping sekolah.
Aku berjalan duluan mendekati pohon itu. Pohon yang menyimpan sejuta kenangan dan pengharapan. Aku mulai menghiraukan 2 orang namja yang ada dibelakangku, yang sengaja aku bawa untuk jalan-jalan sore tetapi malahan aku tinggalkan karna aku focus dengan akar dibawah pohon itu. Entah mengapa hal itu membuatku penasaran.
Masihkah benda itu disana?
Aku mendekat kearah pohon dan yaampun. Ini sudah lewat 10 tahun dan lubang kecil diakar bawah pohon itu masih ada. Yeah, walaupun sudah sedikit tertimbun dengan beberapa rumput tetapi aku masih bisa merasakan rongganya disana.
Aku tergagap menggali tanah disana, berharap bisa menemukan benda itu segera agar 2 orang namja yang sedang bermain basket kini tidak melihat atau memperhatikan apa yang aku lakukan. Bisa malu benar aku kalau mereka mengetahuinya.
Dan ya..
Ya.. benar, itu adalah bendanya. Kotak kecil berisi pengharapanku dengan Kai dulu.
Iya Kai.
Warnanya sudah usang. Warna coklatnya sudah bercampur tanah dan kotor. Tapi aku tersenyum gemetar memandang kotak tersebut. Aku ingat, kotak ini diberikan Kai 10 tahun yang lalu saat kami masih SMA.
“aku sengaja memberikannya padamu. Kita bisa mengisi harapan kita disini dan berharap akan terkabul.” Ucapnya waktu itu.
Ya. Kotak ini berisi pengharapan aku dan Kai. Kami berdua dulu adalah sahabat dekat. Kami melakukan semuanya bersama-sama dan itu terasa sangat menyenangkan.
Ada saja suatu hal yang tidak bisa aku ceritakan kepada orang lain dan hanya Kai yang mengetahuinya. Misalnya saat nilai bahasa inggrisku jelek, atau aku yang ternyata diam-diam suka mengentut didalam kelas(ya, aku tau ini memalukan. Tetapi Kai bukannya merasa jijik dan malahan tertawa, dan dia juga menganggapku unik karna mau mengatakannya. Seriously),
lalu dia juga namja pertama yang aku suruh membeli, kau tau, benda yang sangat wajib kita punya saat datang bulan. Dan aku menyuruh Kai membelinya ketika aku bocor dijam olahraga(dan dia memang terlihat kesal dan terpaksa melakukannya. Dia mengeluh tentang dirinya yang dipandangi seisi pengunjung supermarket saat berdiri dikasir dan hanya membeli benda itu.)
dan juga saat aku.. jatuh cinta.
.
.
“kau menyukai Do Kyungsoo?sunbae kita yang sering bermain basket dilapangan itu?” tanyanya.
Aku mengangguk, aku menggiringnya kejendela dan menyuruhnya melihat seseorang dibawah, ditengah lapangan, “iya Kai, aku menyukainya. Lihatlah dia ,ohmona, dia sangat keren berkeringat dibawah matahari seperti itu.”
Kai mendengus, “pfftt.. aku juga bisa bermain basket seperti itu.”
Aku menghiraukan wajah Kai yang terlihat malas sebentar untuk berbalik dan memandang Kyungsoo sunbae yang sedang mengambil bola dari lawan, “memang. Tetapi dia putih Kai dan kau hmm… intinya aku tidak bisa berhenti memandanginya ,Kai. Eotteohke?”
“apa kau bilang? Putih?hey, sexy bronze skinku juga tidak kalah keren. Tap… ah, sudahlah. Jadi ini alasanmu selalu duduk dipojok didekat jendela? Selain bisa melihat si-Kyungsoo-Kyungsoo itu, kau jadi lebih leluasa untuk buang angin karna ada jendela yang bisa menetralisir baunya-kan?iyakan?”
“kau..!!!” aku menatapnya tajam. Tidak bisakah dia memelankan sedikit suaranya? Kalau dia terus berbicara seperti itu, rahasia ini bukan menjadi rasahia antara aku dan dia lagi, tetapi menjadi rahasia public.
.
.
.
.
.
“aku menyukainya ,Kai.”
“iya-iya, kau sudah menyebut hal itu ribuan kali.”
.
.
.
.
.
Ya tuhan aku menyukai Kyungsoo oppa..
.
Aku membuka gulungan kecil kertas dari puluhan gulungan yang ada didalam kotak ini. Aku bersyukur Kai tidak membeli kotak yang harus memakai kunci untuk membukanya saat membeli kotak itu. Jadi aku tidak terlalu kesusahan untuk membukanya.
Dan.. isian kotak ini masih utuh. Utuh berisi pengharapanku dan Kai. Dengan wilayahku disisi kanan yang hampir penuh dengan gulungan kertas pengharapan dan wilayah Kai disisi kiri yang hanya terdapat satu buah kertas usang.
“yah, mudah-mudahan saja harapan kita menjadi kenyataan kalau kita menimbunnya disini.”
Ucapan Kai terngiang. Aku memandang namja yang sedang bermain basket sambil tersenyum.
.
.
“Kai.. aku menyukainya Kai. Aku menyukainya. Aku menyukainya..”
“geumanhae. Kau bisa menciptakan perncemaran suara jika kau terus mengucapkan hal itu.”
“tapi aku memang sangat menyukainya. Apa yang harus aku lakukan?”
“berdoa..” ucap kai, aku memandangya bingung. Lalu dia mendadak mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat. Aku memandangnya semakin bingung.
“aku sengaja memberikannya padamu. Kita bisa mengisi harapan kita disini dan berharap akan terkabul.”
Aku membuka kotak itu dan mendapati dua sisi kotak yang kosong.
“cepat! Buat pengharapanmu dan masukkan kesalah satu sisi kotak ini!”
Aku mengangguk dan menulis sesuatu dikertas. Tetapi bukannya membuat harapannya sendiri Kai malahan membaca pengharapanku dan langsung mendengus. Aku menatapnya sinis,
“yaa!! pikirkan harapanmu sendiri ,Kai-ssi. Jangan menyontek pengharapan orang lain!” ucapku sambil menggulung kertas yang sudah kutulis pengharapan terbesarku saat ini dan meletakkannya disisi sebelah kanan kotak.
“’aku mencintai Kyungsoo oppa. dekatkan aku padanya.’ Harapan macam apa itu?”
“ya!!” aku pura-pura ingin melemparkan kotak ini kearanya tetapi, melihat Kai yang sudah mengernyit dan sudah menutupi wajahnya dengan tangan, membuatku malahan tertawa melihatnya, “Kai-ya..” aku menyenggol lengannya yang masih melakukan pertahanan. Dia melirikku sedikit dan mengetahui aku tidak jadi memukulnya, dia kembali duduk dengan normal, “..ppaliwa, buat harapanmu.”
“aku sedang tidak ada ide..”
Aku mengerutkan kening kearahnya, “aishh, apa harapan harus difikirkan? Tulis saja apa yang kau inginkan.” Ucapku, dan Kai langsung menatapku lama,
“apa yang aku inginkan?”
Aku mengangguk dan menyodorkan kertas kecil kearahnya. Kai tampak ragu mengambil note itu dan malahan langsung mendesah, “aahh, aniya!!”
Aku geleng-geleng kepala, “ah, yasudah..” ucapku saat Kai melemparkan kertas dan pulpennya ketanah.
“hal apapun yang kau inginkan tulis saja dan letakkan disini sampai penuh. Nanti jika sudah penuh akan kita kubur disini.” Kata Kai sambil menepuk-nepuk tanah dibawah pohon yang sedang kami duduki. Aku mengangguk kearah Kai.
.
.
Dari puluhan pengharapan, aku membaca semuanya dengan geli karna tidak ada harapan lain diantara gulungan kertasku selain, aku mencintai Kyungsoo oppa, biarkan aku dekat dengannya, aku ingin bersamanya yatuhan.
Damn it. Aku sangat konyol.
.
.
Dan sampai dihari dimana kotakku sudah penuh dengan segala pengharapan yang sama. Malam itu akhirnya, kotak ini dikubur oleh Kai denganku yang berdiri disampingnya dengan berderai air mata karna aku menangis kencang sebelum ini.
Ingin tahu hal yang membuatku menangis?
Ya, aku ingat bagaimana rasanya berlari dengan highheels yang akhirnya aku lepaskan juga dan entah dimana akhirnya. Dengan rambut yang sudah seperti gelandangan karna tertiup angin dan riasan yang sudah seperti badut. Aku berlari seperti orang bodoh menuju tempatku dan Kai dipohon itu dimana Kai sudah berada disitu, duduk sendirian dibawah pohon karna dia menolak menemaniku pergi keacara ulang tahun Kyungsoo oppa satu jam yang lalu.
“kau benar tidak mau ikut ,Kai?” tanyaku ketika aku sudah siap dengan dress dan riasanku disalon selama 2 jam.
“tidak. Aku akan terlihat bodoh disana memandangimu bersamanya. Lagian, apa kau tidak takut jika Kyungsoo sunbae mengira kau dan aku ada hubungan apa-apa?”
“hubungan papa-apa bagaimana? Kau kan sahabatku. Sahabat terbaikku sedunia Kai.. hehe..” ucapku sambil merangkulnya. Hmm, benar juga sih apa yang diucapkan Kai, aku melepaskan rangkulanku dan berkata,
“baiklah aku akan kesana sendiri. Siap-siap jika aku sudah pulang ya. Aku akan menceritakan semuanya padamu..” ucapku dengan riang.
“bagaimana jika aku menunggumu ditempat biasa? Kau akan langsung cerita kalau begitu.”
“ah, benar juga. Dan ohiya..” aku membuka tas dan mengambil dompet kecil yang senada dengan bajuku sebelum memberikan tasku itu ke Kai yang berisi kotak coklat kita.
“ini.. aku membawa kotak pengharapan kita dan bagianku sudah terisi penuh. Kau harus mengisi bagianmu Kai!” ucapku.
Dia mengambilnya, “baiklah akan aku isi.”
“aku mau kau sudah mengisi pengharapanmu agar nanti malam sudah bisa dikubur. Ya-ya-ya..”
“iya cerewet.”
“hehe..oke, kkalkayo, annyeong..” ucapku, dan menunjuknya sekali lagi, “ingat buat pengharapanmu.” Ucapku dan akhirnya pergi kerumah Kyungsoo oppa membawa undangan yang beberapa hari lalu diberikan salah satu teman bernama Kim Hana yang memang dekat dengan Kyungsoo oppa setelah sehari yang lalu, aku dan Kyungsoo oppa berkenalan karna dikenalkan Hana.
Aku memandang undangan itu senang dan mengingat bagaimana aku dan Kyungsoo oppa berbicara untuk yang pertama kalinya.
Benar-benar daebakk..
Aku menoleh dan mendapati Kai masih berdiri ditempatnya dan aku melambaikan tangan kearahnya.
“ya..yaa.. kenapa kau menangis?” Tanya Kai saat dia sedang duduk menyender dipohon dengan sebuah kertas dan pulpen digenggamannya dan kotak pengharapan disampingnya yang terbuka. Aku hanya menangis didepan Kai, tidak bisa mengatakan hal apapun dan Kai mengerti dan langsung berdiri memelukku. Dia memelukku lama dan berkata, “menangislah sepuasnya. Jika sudah, baru ceritakan apa yang terjadi.”
Hal itu membuatku semakin menenggelamkan diriku dibahunya dan Kai membalas memelukku semakin erat yang membuatku mendadak tenang lebih cepat walaupun masih sesenggukan.
Kai menyuruhku duduk sambil memakai jaket yang dikenakannya agar aku tidak kedinginan. Aku melihat kotak pengharapan yang terbuka dan itu malahan membuatku merasa sedih lagi.
Tapi Kai sudah memandangku, memberikan fokusnya dan tertuju kearahku, menampakkan kesiapannya untuk mendengar apapun yang akan aku ceritakan yang membuat suasana hening dengan angin malam yang berhembus lumayan kencang.
Aku mengusap hidungku dan mataku yang berair menggunakan jaket Kai. Dia memandangku geli padahal aku sudah hampir memindahkan seluruh bakteri dan air yang keluar dari hidungku kejaketnya yang harum pewangi pakaian.
“kajja, jika kau sudah siap. Ceritakan..”
Aku memulai ceritaku dengan berlinang air mata lagi. jaket Kai yang kebesaran membuatku mudah untuk menjadikannya sebagai pengusap air mata dan Kai seperti tidak keberatan.(tenang Kai aku berjanji akan mencuci jaketmu.)
Jadi.. semuanya tampak sangat menyenangkan ketka aku datang. Kyungsoo oppa terlihat sangat tampan dan Kim Hana yang langsung mengampiriku ketika pandangan kami bertemu.
“hai, kau sendirian? Dimana pacarmu ,Hyu Jin?”
Aku mengernyit bingung, “pacar?”
“Kai..” ucap Hana. Aku tertawa, “haha.. dia hanya sahabatku ,Hana. Dan, kau juga, mana pacarmu?” tanyaku mencoba balik meledeknya. Hana terihat sangat cantik dengan longdress simple berwarna abu-abu, dan dia hanya tersenyum menghiraukan pertanyaanku.
Hana mencoba menyuruhku untuk memberi salam kepada Kyungsoo oppa yang lewat didepanku, tetapi sayang sepertinya ada keadaan mendesak yang harus dia lakukan sehingga dia hanya berkata, “oh, Hyu Jin? Ya, aku ingat. Maaf aku belum bisa banyak berbicara karna harus yeah, kau tau kan menyambut tamu yang lain.” Ucap Kyungsoo oppa sambil tersenyum yang langsung membentuk sebuah hati dibibirnya.
Aku terhipnotis. Setelah berkata seperti itu dia berjalan didepanku. Dia sangat tampan, harum, putih dan dia tampak begitu sempurna berjalan ketengah dan meminta perhatian dengan mendetingkan garpu digelas minuman.
“aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada semuanya yang sudah datang diacara ulang tahunku yang ke-19. Terimakasih atas doanya dan aku ingin memberikan sebuah berita bahagia..”
Aku penasaran, kabar bahagia macam apakah itu? Aku menoleh kesamping mencari Hana untuk memperoleh kejelasan lebih awal, karna Hana dan Kyungsoo oppa terlihat sangat dekat. Tetapi aku tidak menemukannya disampingku. Dan ketika aku menoleh kedepan lagi, aku melihat Kyungsoo oppa dan Hana yang sudah berdiri didekatnya.
“kabar baiknya adalah aku ingin memperkenalkan seseorang yang sudah menjadi orang yang istimewa buatku. Kim Hana. Say hi for my new girlfriend.”
Semua orang bertepuk tangan sedangkan aku melotot melihat pemandangan dimana Kyungsoo oppa menggenggam erat tangan Hana.
Jadi? Hana dan Kyungsoo oppa.. mereka sudah jadian? Sejak kapan? Geotjimal.. benar-benar.. mengecewakan.. menyedihkan dan aku langsung berlari menjauh dari sana dengan patah hati.
“Kai.. tapi aku mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?” tangisku lagi. kai menggenggam tanganku, mencoba menenangkanku yang mulai menangis lagi. “hey..hey.. uljimma..”
Aku menggeleng, “harapanku sia-sia ,Kai.”
“andwae, bahkan kita belum menguburnya..”
“tapi..tap..”
“stttttt..” jari Kai sudah mendarat dibibirku. Aku lantas terdiam dan memandangnya balik. Kai seakan mengucapkan hal magic yang membuatku melakukan apa yang diperintahkannya.
“kita akan menguburkan kotak pengharapannya ,ok!”
Aku mengangguk. Kai sudah menggali tanah dirongga bawah akar tetapi aku seakan teringat sesuatu. Kai belum membuat pengharapannya dan wilayahnya masih kosong.
“Kai.. kau belum membuat pengharapanmu ya?”
Dia menoleh, “eoh, aku lupa.”
“buat sekarang juga!!”
“tapi.. itu tidak perlu Hyu Jin. Yang terpenting adalah harapanmu.”
Aku hampir saja melayang karna ucapan Kai yang begitu pengertian terhadapku. Tetapi, tetap saja, ini kotak kami berdua dan Kai harus membuatnya.
“Andwae! Cepat isi pengarapannya Kai dan jangan bilang kau sedang tidak ada ide!”
Dan akhirnya Kai berjalan gontai kearahku, mengambil kertas dan pulpen dan mulai menuliskan pengharapannya ketika aku balik menggantikan Kai untuk menggali tanah.
“done..”
“benar sudah?” tanyaku sambil menoleh dan menyipitkan mata.
“iya cerewet.”
“yasudah. Masukkan kedalam kotak dan cepat kubur dalam-dalam..”
Aku melihat kotak yang sedang dikubur itu dengan nanar.
Apakah harapannya itu akan benar-benar terkabul setelah dikubur?
“apa harapanku akan terkabul ,Kai?” tanyaku ketika sedang bergegas pulang karna malam sudah larut.
“aku tidak tau. Tapi mudah-mudahan.. iya.”
“apa yang kau harapkan?”
“aish.. mana mungkin aku mengatakannya.”
“ahh, ayolah, nanti akan aku ceritakan semua harapanku.”
“andwae!!”
“ya!! Kai..” ucapku sambil mengejarnya yang berlari mengindar karna tidak mau memberitahukan pengharapannya dan dia juga tidak mau aku beritahukan tentang semua harapanku.
.
.
Aku selsai membaca seluruh harapanku. Harapan yang.. tercipta begitu aneh ketika aku menyadari bagaimana terkabulnya ketika aku tergerak membaca pengharapan Kai yang hanya berisi satu lembar kertas dan terhenyak membacanya.
Harapan dari kotak ini benar-benar terkabul.
Aku hampir saja terharu membaca pengharapan teman lamaku itu tetapi melihat namja yang tengah mendekatiku ketika selesai bermain basket, aku berfikir lagi..
Ya.. dia juga tampak keren bersimbah keringat dibawah matahari seperti itu.
“apa yang sedang kau lakukan? Daritadi kau diam saja?”
Aku memandangnya.. memandangnya haru..
Inilah sebabnya.. harapan yang terkabul dari kotak ini.
“aku membaca ini..” aku memberikan kertas Kai dan dia langsung tersenyum dan merangkulku.
“eommaa!!!!” teriak seorang anak kecil dengan topi yang kebesaran dan kulitnya yang putih. Dia berlari kearahku dan memelukku langsung,
“eomma.. jika aku besar aku ingin pintar bermain basket agar aku bisa mengalahkan ,appa.”
Aku mencubi pipi anak lelakiku yang baru berumur 5 tahun dengan gemas.
“oke.. tapi, jangan terlalu sering bermain dilapangan jika matahari sedang terik. Atau kau akan berubah menjadi kehitaman seperti appa..”
Yang merasa sedang aku ledek menatapku sinis dan menepuk topi anak kami, “sexy Bronze skin Hyu Jin! Kau harus tau jagoan, eommamu itu sangat suka namja berkulit putih.”
Aku mengerucutkan bibirku, “oh ya? Lantas mengapa aku menerima ajakan menikahmu ,Kai? Kau kan tidak putih, kau itu Sexy Bronze gosong Skin.” Ucapku kesal, sedangkan Ken-nama anakku-menatap Kai sambil terkikik mendengar apa yang aku ucapkan.
“kau mau menikahiku karna ini...”
Ucap kai, aku mendadak berhenti terkikik dan tersenyum kearahnya dan mencium pipinya cepat dan menoleh kearah Ken lagi.
“benar-benar terkabulkan?” kata Kai sambil membaca lagi pengharapan satu-satunya itu.
Aku mengangguk.
“kau masih mengingat kotak yang aku berikan ya? Dan hey, aku baru ingat ini tempat favorit kita di SMA dulu. Wah, kau benar-benar mengingatnya. Manis sekali..” ucap Kai sambil tersenyum menggoda kearahku, “coba berikan kotak itu, aku mau lihat!” ucapnya lagi sambil mengambil kotak yang ada disampingku, aku merengut, “andwae!!”
“ye, wae?”
“tidak.. ini privacy..”
Kai memalingkan wajahnya, “aishh.. yasudah. Lagipula aku masih ingat..”
Aku mengernyitkan dahi, “masih ingat? Kau dulu sudah pernah membaca semuanya ya?”
Dia mengambil ken dari pangkuanku, “kau kira, darimana aku bisa menulis pengharapan itu sebelum aku membaca pengharapanmu ,hun.” Ucapnya.
Aku menunduk, kapan Kai membaca pengharapanku yang damn, berisi tentang seniorku dulu yang entah kini sudah bagaimana. Apa ketika aku memberikan kotaknya saat aku ingin kerumah seniorku itu?ahh, aku malu..
“wajahmu memerah, kau ingin buang angin ya?” ucap Kai sambil terkekeh. Aku menatapnya kesal, “sampai kapan kau terus membuatku malu ,Kai?”
“sampai aku melakukan ini..”
Dan akhirnya, cerita ini berakhir happy ending ketika Kai menciumku lama sekali. harga yang harus dibayar untuk harapannya yang terkabul.
Kami terbawa suasana satu sama lain dan menghiraukan tempat dimana kami berciuman juga Ken yang masih berada dipangkuan Kai. Dia meraih sebuah kertas yang ada didekat ayahnya dan membacanya lumayan lancar. Harusnya aku dan Kai senang mendengar anak kami sudah lancar membaca sayangnya, aku dan Kai langsung menyadari apa yang Ken baca ketika dia berucap,
“yatuhan..
Jika akhirnya Hyu Jin tidak bisa bersama dengan orang yang ada disetiap harapannya. Mungkin Hyu Jin bisa dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namanya didalam pengharapan orang tersebut..
Aku mencintaimu Hyu Jin..
Aku mencintaimu hyu Jin..
Ya tuhan, aku mencintai Hyu Jin dan aku ingin bersamanya apapun yang terjadi..”
Astaga..
Itu pengharapannya Kai.
THE END
haha.. annyeong~
gimana ff-ku Kai ku kali ini? mudah2an sama2 serunya kaya Painting Love Art nude ya dan juga sama ff-nya Baekhyun yang Our Baby's Breathe.
jangan lupa RCL dan tinggalkan komenan dann juga saran yang berkesan supaya aku lebih berkembang nulisnya ya~
nanti kalau banyak komen dan saran aku post ff-ku yang lain oke hehe
follow twitter @risdaays and lets be friend
juga wordpress aku yang berisi banyak banget ff recommended buat kalian baca oke. juseyo~
 —  
MY PROSPECTS IS YOUR HOPE

|| Cast: Kim Jong In(Kai) [EXO-K] and You [OC] | Support Cast: DO Kyungsoo  [EXO-K] | Genre: Friendship, comedy, romance, fluff | Length: <2500w(Oneshoot) | Rating: PG-15 ||

Summary:
“Mungkin kau bisa menyebut namanya dalam pengharapanmu tanpa diketahui olehnya..”

…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***…***

Hari yang cerah memang sangat menyenangkan untuk pergi keluar, berjalan ditaman, membeli icecream, atau sekedar memakan kue beras ditepi sungai Han dan menunggu sore tiba tanpa melakukan hal apapun.
Tapi kali ini berbeda..

Aku ingin kesuatu tempat. Kesuatu tempat dimana dulu, aku dan temanku Kai sering pergi kesana untuk sekedar bermain basket atau mengerjakan tugas sekolah diatas rumput dibawah sebuah pohon cherry yang rindang disamping sekolah.

Aku berjalan duluan mendekati pohon itu. Pohon yang menyimpan sejuta kenangan dan pengharapan. Aku mulai menghiraukan 2 orang namja yang ada dibelakangku, yang sengaja aku bawa untuk jalan-jalan sore tetapi malahan aku tinggalkan karna aku focus dengan akar dibawah pohon itu. Entah mengapa hal itu membuatku penasaran.

Masihkah benda itu disana?

Aku mendekat kearah pohon dan yaampun. Ini sudah lewat 10 tahun dan lubang kecil diakar bawah pohon itu masih ada. Yeah, walaupun sudah sedikit tertimbun dengan beberapa rumput tetapi aku masih bisa merasakan rongganya disana.

Aku tergagap menggali tanah disana, berharap bisa menemukan benda itu segera agar 2 orang namja yang sedang bermain basket kini tidak melihat atau memperhatikan apa yang aku lakukan. Bisa malu benar aku kalau mereka mengetahuinya.

Dan ya..

Ya.. benar, itu adalah bendanya. Kotak kecil berisi pengharapanku dengan Kai dulu.

Iya Kai.

Warnanya sudah usang. Warna coklatnya sudah bercampur tanah dan kotor. Tapi aku tersenyum gemetar memandang kotak tersebut. Aku ingat, kotak ini diberikan Kai 10 tahun yang lalu saat kami masih SMA.

“aku sengaja memberikannya padamu. Kita bisa mengisi harapan kita disini dan berharap akan terkabul.” Ucapnya waktu itu.

Ya. Kotak ini berisi pengharapan aku dan Kai. Kami berdua dulu adalah sahabat dekat. Kami melakukan semuanya bersama-sama dan itu terasa sangat menyenangkan.

Ada saja suatu hal yang tidak bisa aku ceritakan kepada orang lain dan hanya Kai yang mengetahuinya. Misalnya saat nilai bahasa inggrisku jelek, atau aku yang ternyata diam-diam suka mengentut didalam kelas(ya, aku tau ini memalukan. Tetapi Kai bukannya merasa jijik dan malahan tertawa, dan dia juga menganggapku unik karna mau mengatakannya. Seriously), 

lalu dia juga namja pertama yang aku suruh membeli, kau tau, benda yang sangat wajib kita punya saat datang bulan. Dan aku menyuruh Kai membelinya ketika aku bocor dijam olahraga(dan dia memang terlihat kesal dan terpaksa melakukannya. Dia mengeluh tentang dirinya yang dipandangi seisi pengunjung supermarket saat berdiri dikasir dan hanya membeli benda itu.)

dan juga saat aku.. jatuh cinta.

.
.
“kau menyukai Do Kyungsoo?sunbae kita yang sering bermain basket dilapangan itu?” tanyanya.

Aku mengangguk, aku menggiringnya kejendela dan menyuruhnya melihat seseorang dibawah, ditengah lapangan, “iya Kai, aku menyukainya. Lihatlah dia ,ohmona, dia sangat keren berkeringat dibawah matahari seperti itu.”

Kai mendengus, “pfftt.. aku juga bisa bermain basket seperti itu.”

Aku menghiraukan wajah Kai yang terlihat malas sebentar untuk berbalik dan memandang Kyungsoo sunbae yang sedang mengambil bola dari lawan, “memang. Tetapi dia putih Kai dan kau hmm… intinya aku tidak bisa berhenti memandanginya ,Kai. Eotteohke?”

“apa kau bilang? Putih?hey, sexy bronze skinku juga tidak kalah keren. Tap… ah, sudahlah. Jadi ini alasanmu selalu duduk dipojok didekat jendela? Selain bisa melihat si-Kyungsoo-Kyungsoo itu, kau jadi lebih leluasa untuk buang angin karna ada jendela yang bisa menetralisir baunya-kan?iyakan?”

“kau..!!!” aku menatapnya tajam. Tidak bisakah dia memelankan sedikit suaranya? Kalau dia terus berbicara seperti itu, rahasia ini bukan menjadi rasahia antara aku dan dia lagi, tetapi menjadi rahasia public.
.
.
.
.
.
“aku  menyukainya ,Kai.”
“iya-iya, kau sudah menyebut hal itu ribuan kali.”
.
.
.
.
.
Ya tuhan aku menyukai Kyungsoo oppa..
.
Aku membuka gulungan kecil kertas dari puluhan gulungan yang ada didalam kotak ini. Aku bersyukur Kai tidak membeli kotak yang harus memakai kunci untuk membukanya saat membeli kotak itu. Jadi aku tidak terlalu kesusahan untuk membukanya.

Dan.. isian kotak ini masih utuh. Utuh berisi pengharapanku dan Kai. Dengan wilayahku disisi kanan yang hampir penuh dengan gulungan kertas pengharapan dan wilayah Kai disisi kiri yang hanya terdapat satu buah kertas usang.

“yah, mudah-mudahan saja harapan kita menjadi kenyataan kalau kita menimbunnya disini.”

Ucapan Kai terngiang. Aku memandang namja yang sedang bermain basket sambil tersenyum.
.
.

“Kai.. aku menyukainya Kai. Aku menyukainya. Aku menyukainya..”

“geumanhae. Kau bisa menciptakan perncemaran suara jika kau terus mengucapkan hal itu.”

“tapi aku memang sangat menyukainya. Apa yang harus aku lakukan?”

“berdoa..” ucap kai, aku memandangya bingung. Lalu dia mendadak mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat. Aku memandangnya semakin bingung.

“aku sengaja memberikannya padamu. Kita bisa mengisi harapan kita disini dan berharap akan terkabul.”

Aku membuka kotak itu dan mendapati dua sisi kotak yang kosong.
“cepat! Buat pengharapanmu dan masukkan kesalah satu sisi kotak ini!”

Aku mengangguk dan menulis sesuatu dikertas. Tetapi bukannya membuat harapannya sendiri Kai malahan membaca pengharapanku dan langsung mendengus. Aku menatapnya sinis,

“yaa!! pikirkan harapanmu sendiri ,Kai-ssi. Jangan menyontek pengharapan orang lain!” ucapku sambil menggulung kertas yang sudah kutulis pengharapan terbesarku saat ini dan meletakkannya disisi sebelah kanan kotak.

“’aku mencintai Kyungsoo oppa. dekatkan aku padanya.’ Harapan macam apa itu?”

“ya!!” aku pura-pura ingin melemparkan kotak ini kearanya tetapi, melihat Kai yang sudah mengernyit dan sudah menutupi wajahnya dengan tangan, membuatku malahan tertawa melihatnya, “Kai-ya..” aku menyenggol lengannya yang masih melakukan pertahanan. Dia melirikku sedikit dan mengetahui aku tidak jadi memukulnya, dia kembali duduk dengan normal, “..ppaliwa, buat harapanmu.”

“aku sedang tidak ada ide..”

Aku mengerutkan kening kearahnya, “aishh, apa harapan harus difikirkan? Tulis saja apa yang kau inginkan.” Ucapku, dan Kai langsung menatapku lama,

“apa yang aku inginkan?”

Aku mengangguk dan menyodorkan kertas kecil kearahnya. Kai tampak ragu mengambil note itu dan malahan langsung mendesah, “aahh, aniya!!”

Aku geleng-geleng kepala, “ah, yasudah..” ucapku saat Kai melemparkan kertas dan pulpennya ketanah.

“hal apapun yang kau inginkan tulis saja dan letakkan disini sampai penuh. Nanti jika sudah penuh akan kita kubur disini.” Kata Kai sambil menepuk-nepuk tanah dibawah pohon yang sedang kami duduki. Aku mengangguk kearah Kai.
.
.

Dari puluhan pengharapan, aku membaca semuanya dengan geli karna tidak ada harapan lain diantara gulungan kertasku selain, aku mencintai Kyungsoo oppa, biarkan aku dekat dengannya, aku ingin bersamanya yatuhan.

Damn it. Aku sangat konyol.
.
.

Dan sampai dihari dimana kotakku sudah penuh dengan segala pengharapan yang sama. Malam itu akhirnya, kotak ini dikubur oleh Kai denganku yang berdiri disampingnya dengan berderai air mata karna aku menangis kencang sebelum ini.

Ingin tahu hal yang membuatku menangis?

Ya, aku ingat bagaimana rasanya berlari dengan highheels yang akhirnya aku lepaskan juga dan entah dimana akhirnya. Dengan rambut yang sudah seperti gelandangan karna tertiup angin dan riasan yang sudah seperti badut. Aku berlari seperti orang bodoh menuju tempatku dan Kai dipohon itu dimana Kai sudah berada disitu, duduk sendirian dibawah pohon karna dia menolak menemaniku pergi keacara ulang tahun Kyungsoo oppa satu jam yang lalu.

“kau benar tidak mau ikut ,Kai?” tanyaku ketika aku sudah siap dengan dress dan riasanku disalon selama 2 jam.

“tidak. Aku akan terlihat bodoh disana memandangimu bersamanya. Lagian, apa kau tidak takut jika Kyungsoo sunbae mengira kau dan aku ada hubungan apa-apa?”

“hubungan papa-apa bagaimana? Kau kan sahabatku. Sahabat terbaikku sedunia Kai.. hehe..” ucapku sambil merangkulnya. Hmm, benar juga sih apa yang diucapkan Kai, aku melepaskan rangkulanku dan berkata,
“baiklah aku akan kesana sendiri. Siap-siap jika aku sudah pulang ya. Aku akan menceritakan semuanya padamu..” ucapku dengan riang.

“bagaimana jika aku menunggumu ditempat biasa? Kau akan langsung cerita kalau begitu.”

“ah, benar juga. Dan ohiya..” aku membuka tas dan mengambil dompet kecil yang senada dengan bajuku sebelum memberikan tasku itu ke Kai yang berisi kotak coklat kita.

“ini.. aku membawa kotak pengharapan kita dan bagianku sudah terisi penuh. Kau harus mengisi bagianmu Kai!” ucapku.

Dia mengambilnya, “baiklah akan aku isi.”

“aku mau kau sudah mengisi pengharapanmu agar nanti malam sudah bisa dikubur. Ya-ya-ya..”

“iya cerewet.”

“hehe..oke, kkalkayo, annyeong..” ucapku, dan menunjuknya sekali lagi, “ingat buat pengharapanmu.” Ucapku dan akhirnya pergi kerumah Kyungsoo oppa membawa undangan yang beberapa hari lalu diberikan salah satu teman bernama Kim Hana yang memang dekat dengan Kyungsoo oppa setelah sehari yang lalu, aku dan Kyungsoo oppa berkenalan karna dikenalkan Hana.

Aku memandang undangan itu senang dan mengingat bagaimana aku dan Kyungsoo oppa berbicara untuk yang pertama kalinya.

Benar-benar daebakk..

Aku menoleh dan mendapati Kai masih berdiri ditempatnya dan aku melambaikan tangan kearahnya.

 “ya..yaa.. kenapa kau menangis?” Tanya Kai saat dia sedang duduk menyender dipohon dengan sebuah kertas dan pulpen digenggamannya dan kotak pengharapan disampingnya yang terbuka. Aku hanya menangis didepan Kai, tidak bisa mengatakan hal apapun dan Kai mengerti dan langsung berdiri  memelukku. Dia memelukku lama dan berkata, “menangislah sepuasnya. Jika sudah, baru ceritakan apa yang terjadi.”
Hal itu membuatku semakin menenggelamkan diriku dibahunya dan Kai membalas memelukku semakin erat yang membuatku mendadak tenang lebih cepat walaupun masih sesenggukan.

Kai menyuruhku duduk sambil memakai jaket yang dikenakannya agar aku tidak kedinginan. Aku melihat kotak pengharapan yang terbuka dan itu malahan membuatku merasa sedih lagi.

Tapi Kai sudah memandangku, memberikan fokusnya dan tertuju kearahku, menampakkan kesiapannya untuk mendengar apapun yang akan aku ceritakan yang membuat suasana hening dengan angin malam yang berhembus lumayan kencang.

Aku mengusap hidungku dan mataku yang berair menggunakan jaket Kai. Dia memandangku geli padahal aku sudah hampir memindahkan seluruh bakteri dan air yang keluar dari hidungku kejaketnya yang harum pewangi pakaian.

“kajja, jika kau sudah siap. Ceritakan..”

Aku memulai ceritaku dengan berlinang air mata lagi. jaket Kai yang kebesaran membuatku mudah untuk menjadikannya sebagai pengusap air mata dan Kai seperti tidak keberatan.(tenang Kai aku berjanji akan mencuci jaketmu.)

Jadi.. semuanya tampak sangat menyenangkan ketka aku datang. Kyungsoo oppa terlihat sangat tampan dan Kim Hana yang langsung mengampiriku ketika pandangan kami bertemu.

“hai, kau sendirian? Dimana pacarmu ,Hyu Jin?”

Aku mengernyit bingung, “pacar?”

“Kai..” ucap Hana. Aku tertawa, “haha.. dia hanya sahabatku ,Hana. Dan, kau juga, mana pacarmu?” tanyaku mencoba balik meledeknya. Hana terihat sangat cantik dengan longdress simple berwarna abu-abu, dan dia hanya tersenyum menghiraukan pertanyaanku.

Hana mencoba menyuruhku untuk memberi salam kepada Kyungsoo oppa yang lewat didepanku, tetapi sayang sepertinya ada keadaan mendesak yang harus dia lakukan sehingga dia hanya berkata, “oh, Hyu Jin? Ya, aku ingat. Maaf aku belum bisa banyak berbicara karna harus yeah, kau tau kan menyambut tamu yang lain.” Ucap Kyungsoo oppa sambil tersenyum yang langsung membentuk sebuah hati dibibirnya.

Aku terhipnotis. Setelah berkata seperti itu dia berjalan didepanku. Dia sangat tampan, harum, putih dan dia tampak begitu sempurna berjalan ketengah dan meminta perhatian dengan mendetingkan garpu digelas minuman.

“aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada semuanya yang sudah datang diacara ulang tahunku yang ke-19. Terimakasih atas doanya dan aku ingin memberikan sebuah berita bahagia..”

Aku penasaran, kabar bahagia macam apakah itu? Aku menoleh kesamping mencari Hana untuk memperoleh kejelasan lebih awal, karna Hana dan Kyungsoo oppa terlihat sangat dekat. Tetapi aku tidak menemukannya disampingku. Dan ketika aku menoleh kedepan lagi, aku melihat Kyungsoo oppa dan Hana yang sudah berdiri didekatnya.

“kabar baiknya adalah aku ingin memperkenalkan seseorang yang sudah menjadi orang yang istimewa buatku. Kim Hana. Say hi for my new girlfriend.”

Semua orang bertepuk tangan sedangkan aku melotot melihat pemandangan dimana Kyungsoo oppa menggenggam erat tangan Hana.

Jadi? Hana dan Kyungsoo oppa.. mereka sudah jadian? Sejak kapan? Geotjimal.. benar-benar.. mengecewakan.. menyedihkan dan aku langsung berlari menjauh dari sana dengan patah hati.

“Kai.. tapi aku mencintainya. Apa yang harus aku lakukan?” tangisku lagi. kai menggenggam tanganku, mencoba menenangkanku yang mulai menangis lagi. “hey..hey.. uljimma..”

Aku menggeleng, “harapanku sia-sia ,Kai.”

“andwae, bahkan kita belum menguburnya..”

“tapi..tap..”

“stttttt..” jari Kai sudah mendarat dibibirku. Aku lantas terdiam dan memandangnya balik. Kai seakan mengucapkan hal magic yang membuatku melakukan apa yang diperintahkannya.

“kita akan menguburkan kotak pengharapannya ,ok!”

Aku mengangguk. Kai sudah menggali tanah dirongga bawah akar tetapi aku seakan teringat sesuatu. Kai belum membuat pengharapannya dan wilayahnya masih kosong.

“Kai.. kau belum membuat pengharapanmu ya?”

Dia menoleh, “eoh, aku lupa.”

“buat sekarang juga!!”

“tapi.. itu tidak perlu Hyu Jin. Yang terpenting adalah harapanmu.”

Aku hampir saja melayang karna ucapan Kai yang begitu pengertian terhadapku. Tetapi, tetap saja, ini kotak kami berdua dan Kai harus membuatnya.

“Andwae! Cepat isi pengarapannya Kai dan jangan bilang kau sedang tidak ada ide!”

Dan akhirnya Kai berjalan gontai kearahku, mengambil kertas dan pulpen dan mulai menuliskan pengharapannya ketika aku balik menggantikan Kai untuk menggali tanah.

“done..”

“benar sudah?” tanyaku sambil menoleh dan menyipitkan mata.

“iya cerewet.”

“yasudah. Masukkan kedalam kotak dan cepat kubur dalam-dalam..”

Aku melihat kotak yang sedang dikubur itu dengan nanar.

Apakah harapannya itu akan benar-benar terkabul setelah dikubur?

“apa harapanku akan terkabul ,Kai?” tanyaku ketika sedang bergegas pulang karna malam sudah larut.

“aku tidak tau. Tapi mudah-mudahan.. iya.”

“apa yang kau harapkan?”

“aish.. mana mungkin aku mengatakannya.”

“ahh, ayolah, nanti akan aku ceritakan semua harapanku.”

“andwae!!”

“ya!! Kai..” ucapku sambil mengejarnya yang berlari mengindar karna tidak mau memberitahukan pengharapannya dan dia juga tidak mau aku beritahukan tentang semua harapanku.
.
.

Aku selsai membaca seluruh harapanku. Harapan yang.. tercipta begitu aneh ketika aku menyadari bagaimana terkabulnya ketika aku tergerak membaca pengharapan Kai yang hanya berisi satu lembar kertas dan terhenyak membacanya.

Harapan dari kotak ini benar-benar terkabul.

Aku hampir saja terharu membaca pengharapan teman lamaku itu tetapi melihat namja yang tengah mendekatiku ketika selesai bermain basket, aku berfikir lagi..

Ya.. dia juga tampak keren bersimbah keringat dibawah matahari seperti itu.

“apa yang sedang kau lakukan? Daritadi kau diam saja?”

Aku memandangnya.. memandangnya haru..

Inilah sebabnya.. harapan yang terkabul dari kotak ini.

“aku membaca ini..” aku memberikan kertas Kai dan dia langsung tersenyum dan merangkulku.

“eommaa!!!!” teriak seorang anak kecil dengan topi yang kebesaran dan kulitnya yang putih. Dia berlari kearahku dan memelukku langsung, 

“eomma.. jika aku besar aku ingin pintar bermain basket agar aku bisa mengalahkan ,appa.”

Aku mencubi pipi anak lelakiku yang baru berumur 5 tahun dengan gemas.

“oke.. tapi, jangan terlalu sering bermain dilapangan jika matahari sedang terik. Atau kau akan berubah menjadi kehitaman seperti appa..”

Yang merasa sedang aku ledek menatapku sinis dan menepuk topi anak kami, “sexy Bronze skin Hyu Jin! Kau harus tau jagoan, eommamu itu sangat suka namja berkulit putih.”

Aku mengerucutkan bibirku, “oh ya? Lantas mengapa aku menerima ajakan menikahmu ,Kai? Kau kan tidak putih, kau itu Sexy Bronze gosong Skin.” Ucapku kesal, sedangkan Ken-nama anakku-menatap Kai sambil terkikik mendengar apa yang aku ucapkan.

“kau mau menikahiku karna ini...”

Ucap kai, aku mendadak berhenti terkikik dan tersenyum kearahnya dan mencium pipinya cepat dan menoleh kearah Ken lagi.

“benar-benar terkabulkan?” kata Kai sambil membaca lagi pengharapan satu-satunya itu.

Aku mengangguk.

“kau masih mengingat kotak yang aku berikan ya? Dan hey, aku baru ingat ini tempat favorit kita di SMA dulu. Wah, kau benar-benar mengingatnya. Manis sekali..” ucap Kai sambil tersenyum menggoda kearahku, “coba berikan kotak itu, aku mau lihat!” ucapnya lagi sambil mengambil kotak yang ada disampingku, aku merengut, “andwae!!”

“ye, wae?”

“tidak.. ini privacy..”

Kai memalingkan wajahnya, “aishh.. yasudah. Lagipula aku masih ingat..”

Aku mengernyitkan dahi, “masih ingat? Kau dulu sudah pernah membaca semuanya ya?”

Dia mengambil ken dari pangkuanku, “kau kira, darimana aku bisa menulis pengharapan itu sebelum aku membaca pengharapanmu ,hun.” Ucapnya.

Aku menunduk, kapan Kai membaca pengharapanku yang damn, berisi tentang seniorku dulu yang entah kini sudah bagaimana. Apa ketika aku memberikan kotaknya saat aku ingin kerumah seniorku itu?ahh, aku malu..

“wajahmu memerah, kau ingin buang angin ya?” ucap Kai sambil terkekeh. Aku menatapnya kesal, “sampai kapan kau terus membuatku malu ,Kai?”
“sampai aku melakukan ini..”

Dan akhirnya, cerita ini berakhir happy ending ketika Kai menciumku lama sekali. harga yang harus dibayar untuk harapannya yang terkabul.

Kami terbawa suasana satu sama lain dan menghiraukan tempat dimana kami berciuman juga Ken yang masih berada dipangkuan Kai. Dia meraih sebuah kertas yang ada didekat ayahnya dan membacanya lumayan lancar. Harusnya aku dan Kai senang mendengar anak kami sudah lancar membaca sayangnya, aku dan Kai langsung menyadari apa yang Ken baca ketika dia berucap,

“yatuhan..

Jika akhirnya Hyu Jin tidak bisa bersama dengan orang yang ada disetiap harapannya. Mungkin Hyu Jin bisa dibersamakan dengan orang yang diam-diam sering menyebut namanya didalam pengharapan orang tersebut..

Aku mencintaimu Hyu Jin..

Aku mencintaimu hyu Jin..

Ya tuhan, aku mencintai Hyu Jin dan aku ingin bersamanya apapun yang terjadi..”

Astaga..

Itu pengharapannya Kai.

THE END

haha.. annyeong~
gimana ff-ku Kai ku kali ini? mudah2an sama2 serunya kaya Painting Love Art nude ya dan juga sama ff-nya Baekhyun yang Our Baby's Breathe.
jangan lupa RCL dan tinggalkan komenan dann juga saran yang berkesan supaya aku lebih berkembang nulisnya ya~
nanti kalau banyak komen dan saran aku post ff-ku yang lain oke hehe

follow twitter @risdaays and lets be friend
juga wordpress aku yang berisi banyak banget ff recommended buat kalian baca oke. juseyo~

Halaman